Kesehatan

Pengalaman Digigit Nyamuk Berwolbachia 

  •   Khajjar Rohmah
  •   11 Maret 2024
  •   5:25pm
  •   Kesehatan
  •   655 kali dilihat

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kadinkes Kaltim) berkesempatan menjadi relawan untuk digigit nyamuk wolbachia di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) dalam upaya penanggulangan kasus Demam Berdarah atau DBD. Berikut kisahnya. 

 

Oleh: dr. Jaya Mualimin

Bakteri wolbachia tengah menjadi pembahasan panjang baik di kalangan para ahli entomolog, praktisi kesehatan, hingga masyarakat awam. Saya berkesempatan untuk menjadi saksi sendiri digigit oleh nyamuk Aedes Aegypti di Laboratorium Entomologi FK UGM.

Bukan satu kebetulan di dunia nyata bahwa kuman wolbachia itu ada di beberapa serangga di sekitar kita. Ada juga pada nyamuk Aedes Albopictus. Tetapi tidak terdapat pada sub familinya Aegypti. Sayangnya Aedes Aegypti ini menjadi vektor dari Dengue yang masih menyisakan banyak pekerjaan rumah bagi kesehatan bersama.

Setiap tahun angka kesakitan penyakit Dengue atau sering disebut demam berdarah masih di atas standar nasional 10/100.000 penduduk. Insiden rate di setiap daerah melonjak di atas 10/100.000 penduduk. Angka kematian atau sering disebut case fatality rate (CFR) juga masih tinggi di atas 1 persen. 

Berbagai cara dan penaggulangan telah dilakukan. Baik dengan pengendalian lingkungan, vektor, dan upaya pelayanan kasus. Nyatanya belum ada perbaikan yang signifikan.

Upaya penanggulangan DBD juga sering disosialisasikan dengan kegiatan 3M (menguras, menutup dan membuang) sebagai bagian dari pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

Saat ini, telah diperkenalkan inovasi metode wolbachia yang memberikan harapan menurunan kasus signifikan sebanyak 77 persen dan 86 persen pasien yang dirawat di RS oleh virus Dengue dibandingkan dengan cara konvensional yang sudah dilakukan.

Mengunjungi laboratorium nyamuk Aedes Aegipty di LPPM FK UGM kami diajak untuk melihat bagaimana proses pembiakan nyamuk ini yang telah diberikan kuman wolbachia. Dan di laboratorium ini telah melalui generasi kedelapan puluhan.  

Wolbachia merupakan sebuah bakteri yang memiliki kemampuan untuk menonaktifkan virus dengue dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti. Membuka peluang baru dalam pengendalian demam berdarah.

Mencoba menjadi sukarelawan donor sambil melihat siklus nyamuk dimulai dengan telur kemudian menjadi jentik lalu puva dan menjadi nyamuk dewasa. Setelah menjadi nyamuk dewasa perlu 2-3 siklus bertelur dan salah satu sumber makanan nyamuk dewasa adalah darah ( yang paling baik) dari donor manusia.

Saya diberikan kesempatan untuk menjadi donor langsung digigit nyamuk. Rasa seperti kena kejut mikrolistrik.

Ada beberapa sukarelawan yang masih terlihat menjukurkan kedua tanganya agar nyamuk menggigit karena sudah terbiasa, ada yang sudah 7 tahun ada yg pemula dan ada yang 3 tahun.

Saya akhirnya memberanikan diri utk merasakan gigitan nyamuk yang banyak. Ternyata terasa ada gigitan yang kecil terasa seperti kena kejut mikrolistrik.

Luar biasa, pikiran saya 10 tahun ke depan saya bayangkan wolbachia akan menjadi salah satu pengendalian vektor untuk menjaga Aedes Aegypti bisa berdampingan dengan kita. Tanpa harus menjadi vektor transmisi DENV1,2,3 dan 4. Penyakit Dengue bukan lagi momok bagi masyarakat sebagai "Deman Berdarah". (*/pt)