Berita

Di Forum Nasional, Faisal ‘Curhat’ Soal Masalah Telekomunikasi di Kaltim

  •   Khajjar Rohmah
  •   4 Agustus 2022
  •   1:54pm
  •   Berita
  •   670 kali dilihat

Jakarta – Saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi panel Digital Transformation Indonesia Conference and Expo (DTI CX), Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) Muhammad Faisal, sempat curhat terkait permasalahan akses telekomunikasi di daerah.

Di forum nasional tersebu, ia membeberkan sejumlah problematika yang terjadi di Benua Etam. Di antaranya seperti ketimpangan pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi antara pulau Jawa dan Kalimantan, sulitnya pengajuan pembangunan Tower Base Transceiver Station (BTS) dan kondisi geografis wilayah Kaltim. Persoalan itu, menurutnya harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, terutama dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

“Karena tidak bisa Pemerintah Daerah (Pemda) saja. Dana kami terbatas dan wilayah kami luas,” sebut Faisal.

Faisal juga menekankan, perlunya penyamaan persepsi bahwa telekomunikasi saat ini menjadi kebutuhan infrastruktur dasar yang menjadi bagian dari pembangunan. Bahkan, terikat langsung dengan tingkat kesejahteraan masyarakat. 

“Bayangkan, dua tahun kita pandemi. Sekolah harus online, tapi anak-anak kita di perbatasan tidak bisa sekolah karena tidak ada internet. Akhirnya mereka bekerja, sampai sekarang keterusan. Malah berhenti sekolahnya. Ini kan memprihatinkan,” ungkapnya. 

Kaltim memang masih mengalami wilayah blankspot sekitar 23 persen di beberapa area. Mayoritas berada di wilayah desa-desa pedalaman. Belum tersedianya akses listrik juga semakin memperparah kondisi wilayah blankspot.

 

“Masih ada sekitar 245 desa yang blankspot. Selain problem akses telekomunikasi, tidak ada listrik juga,” ujar mantan Kadiskominfo Kota Samarinda ini.

Kondisi geografis Kaltim yang memiliki gunung dan rawa juga menyulitkan pembangunan tower BTS. Bahkan pembangunan tower BTS dengan ketinggian 90 sampai 110 meter pun, terkadang tidak menjangkau jaringan internet di sekitar. 

Menyikapi permasalahan itu, Faisal berharap pembangunan infrastruktur telekomunikasi di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), dapat diakomodir oleh program BAKTI dari Kemenkominfo. 

Secara pentahelix, Diskominfo Kaltim juga melakukan serangkaian program kegiatan pembangunan dalam rangka pemeratan akses telekomunikasi. Salah satunya dengan memasang jaringan fiber optik hingga ke desa - desa. Termasuk meminta bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak swasta untuk pemenuhan akses jaringan internet dan wifi. (KRV/pt)