Artikel

Kisah Lilis Suryani: 32 Tahun Menjadi Pengrajin, Lestarikan Batik Tulis Kalimantan 

  •   Khajjar Rohmah
  •   2 Oktober 2022
  •   10:04pm
  •   Artikel
  •   5927 kali dilihat

Artikel ini ditulis secara khusus untuk memperingati Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2022 

 

Samarinda - Lilis Suryani masih mengingat dengan jelas, bagaimana ia mengenal dan belajar menjadi seorang pembatik. Karir membatiknya, ia mulai pada tahun 1990 silam sebagai buruh mencanting di industri rumahan, Batik Tulis Mitaka milik Sani Rachman. Nama brand ini, bisa dibilang perintis awal usaha batik tulis di Kota Samarinda. 

 

Usial Lilis kala itu, masih 21 tahun. Saat memulai bekerja, ia tidak langsung dipercaya memegang kain batik. Namun harus menjalani masa pelatihan selama dua pekan. Ketika sudah dirasa mampu, baru lah ia dipercaya memegang kain untuk proses produksi batik tulis. 

 

Bagiannya saat itu, adalah menembok kain. Nembok adalah tahapan utama dalam proses pemalaman batik, yang berfungsi untuk menutupi bagian kain. Agar tetap berwarna putih sebelum pemberian warna. 

 

Namun karena keinginan besarnya untuk belajar membatik, ia mempelajari seluruh tahapan. Seperti membentuk pola, menggambar motif, mencanting, dan mewarnai. 

 

Gaji pertamanya sebagai buruh batik tulis, adalah Rp 25 ribu rupiah. Baginya saat itu, gaji Rp 25 ribu cukup menjanjikan. Karena bisa dipakai untuk membeli satu gram emas, seharga Rp 22 ribu kala itu. 

 

Ia bahkan membandingkan, gaji pembatik lokal cukup kompetitif dengan buruh perusahaan kayu yang sedang menjadi primadona saat itu, sebesar Rp 40 ribu. 

 

Karir Lilis sebagai buruh batik, bisa dibilang cukup melejit. Ia tak hanya menjadi buruh mencanting. Tapi ia juga dipercaya menjadi quality control dan penanggung jawab penjualan di showroom batik. Ia bahkan dikirim ke berbagai pelatihan dan pameran batik nasional di luar Kalimantan. 

 

Setelah 23 tahun mengabdi sebagai karyawan, Lilis akhirnya memutuskan untuk keluar dan memilih mendirikan usaha batik tulis secara mandiri. 

 

Pada 2014, ia merintis brand batik tulis dengan namanya sendiri, Lilis Batik Tulis Kalimantan. Dengan pendirian usaha batik tulisnya, ia memantapkan diri sebagai pengrajin batik tulis. Karir yang telah ia tekuni selama 32 tahun. 

 

"Saya memilih batik tulis, karena hobi saja. Rasanya, jiwa saya sudah di sini," kisahnya kepada Diskominfo Kaltim saat ditemui di kediamannya, Sabtu (1/10/2022). 

 

Ibu satu anak ini, secara konsisten memproduksi batik tulis dengan corak dan motif khas Kalimantan. Meski ia mengaku, berdarah Jawa, daerah dimana sentra batik tumbuh dan berkembang di Indonesia. 

 

"Meski saya orang Jawa, saya belajar membatik ini di Kalimantan. Jadi yang saya kembangkan ya motif yang khas Kalimantan," ungkap Lilis yang juga memiliki darah bugis dari sang ayah. 

 

Motif batik yang sering ia gunakan, adalah motif khas Kaltim. Seperti ukiran khas Dayak, flora dan fauna seperti ikan, burung enggang, atau batik batang garing dan tunjung siring. Ada juga motif tas anjat khas Dayak, yang diangkat ke dalam batik tulis. 

 

Perbedaan mendasar corak batik Kalimantan dengan batik dari daerah lain, ada pada gradasi warna. Warna batik Kalimantan, cenderung lebih terang dan mentereng. Dibandingkan dengan batik Jawa yang cenderung lebih kalem. 

 

"Corak di sini suka yang cerah. Misalnya kuning, merah, atau warna emas," ujarnya. 

 

Ia biasanya lebih memilih pewarnaan alami dari alam. Seperti warna merah jingga dari kulit bawang merah, atau warna coklat pekat dari kayu Ulin rebus. Namun karena sulitnya bahan baku, kini ia pun beralih ke pewarnaan kimia. 

 

Lilis mengerjakan seluruh tahapan dalam proses membatik, seorang diri. Mulai dari menggambar pola, mencanting, hingga mewarnai. Jika datang banyak pesanan, baru lah ia mempekerjakan beberapa orang secara freelance

 

"Ya panggil teman-teman sesama bekas karyawan Mitaka dulu, kalau pesanan sedang banyak," ujar perempuan kelahiran Malang, 2 Februari 1969 ini. 

 

Satu kain batik dengan motif simpel bisa dikerjakan selama 3 hari. Namun jika motif cukup rumit, bisa memakan waktu lebih lama. Lilis mengaku, meski tanpa pesanan, ia tetap produktif membatik. Produksi batiknya, bisa ia jadikan stok. Dalam sehari ia mengaku bisa menggambar 5 hingga 7 motif kain batik tulis.  

 

Proses membatik, dimulai dengan menggambar pola di atas karton, lalu dijiplak ke kain putih sebagai motif. Usai menggambar, proses batik tulis dilanjutkan dengan tehnik mencanting klowong. Yakni pelekatan pertama cairan malam pada motif untuk mempertegas pola. 

 

"Setelah klowong, lalu nembok untuk menutupi warna kain. Biar bisa dikombinasi warna," terangnya menjelaskan proses membatik. 

 

Setelah proses mencanting selesai, baru lah dilakukan pewarnaan dengan mencelupkan kain ke dalam pewarna kimia. Lalu dijemur dan disetrika. Jadi lah kain batik tulis yang biasa kita lihat. 

 

"Batik tulis itu yaa kata orang rumit, gampang-gampang susah. Karena butuh ketelatenan." 

 

Satu kain batik tulis berbahan katun sepanjang 2 meter, bisa ia jual dengan kisaran harga antara Rp 350 hingga Rp 750 ribu. Sementara untuk batik tulis berbahan sutra, bisa mencapai Rp 1,05 juta per 2 meter dan Rp 2,8 juta per setnya. 

 

Selama delapan tahun berdiri, brand Lilis Batik Tulis cukup eksis di kalangan pencinta batik Kalimantan Timur. Ia sering mengikuti pameran baik tingkat lokal dan nasional. Pelanggannya pun berasal dari berbagai bidang, baik pemerintahan dan swasta. 

 

Pasar batik lokal, menurutnya naik - turun. Hanya ramai saat event tertentu. Paling tinggi, ia bisa menjual 10 kain batik per bulan. Namun saat sepi, bisa kosong sama sekali. 

 

Kendala lainnya adalah penyediaan bahan baku yang sepenuhnya didatangkan dari Jawa. Mulai dari kain, alat mencanting, lilin cairan malam, hingga bahan pewarna. 

 

Memaknai Hari Batik Nasional 2022, Lilis berharap bisa bermunculan seniman lokal batik tulis di Kalimantan Timur. Apalagi menjelang pemindahan IKN Nusantara, Kaltim harus mampu menjadi daerah sentra batik yang mengangkat kearifan lokal dan kekhasan motif daerah. 

 

Ia juga memiliki mimpi membesarkan usaha batik tulis miliknya. Menjadi industri besar dan profesional yang mampu merekrut banyak tenaga kerja. Terutama perempuan dan ibu rumah tangga. (KRV/pt)