Kesehatan

Pemprov Kaltim Gelar Rakor, Sukseskan BICR

  •   rizki yusuf
  •   20 Januari 2022
  •   2:37pm
  •   Kesehatan
  •   131 kali dilihat
  •  

Samarinda--- Guna mensukseskan pelaksanaan Bulan Imunisasi Campak Rubella (BICR), Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Kesehatan melaksanakan Rapat Koordinasi terkait persiapan pelaksanaan serta membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Eliminasi Campak Rubela di Kantor Gubernur Ruang tepian II lantai 2 Jalan Gajah mada, Kamis(20/1).

Kegiatan tersebut mengacu pada Surat Edaran (SE) Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi RI Nomor 1 Tahun 2022 tentang dukungan pelaksanaan  Bulan Imunisasi Campak dan Rubella tahun 2022 pada satuan pendidikan serta Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 82 Tahun 2011 tentang Penanggulangan Penyakit Menular.

Rapat dipimpin oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Prov. Kaltim,  Andi M Ishak didampingi Kabid Penyakit Menular Dinas Kesehatan, Setyo B Basuki dengan dihadiri sejumlah pejabat struktural dilingkungan pemprov Kaltim.

Kepala Biro Kesra Setda Prov. Kaltim, Andi M Ishak mengatakan pelaksanaan tersebut berkenaan dengan upaya mewujudkan komitmen nasional pencapaian Eliminasi Campak dan Rubela/ Congenital Rubella Syndrome (CRS) melalui kegiatan pemberian imunisasi tambahan dalam Bulan Imunisasi.

"Ini adalah suatu program Nasional yang perlu kita sukseskan, karena keberhasilan Nasional ini tergantung apa yang dilaksanakan dilapangan sampai ditingkat kabupaten/kota. Karena kegagalan kita menyentuh target itu akan mempengaruhi kegagalan secara nasional dan ini akan mempengaruhi secara Global,"ujarnya.

Andi menjelaskan, Penyakit Campak masih merupakan penyakit dengan tingkat penularan tinggi di negara yang sedang berkembang Penyakit Rubella adalah penyakit yang mirip dengan campak.

Infeksi Rubela menimbulkan gejala yang relatif ringan pada anak dan kebanyakan penderita hanya mengalami ruam ringan atau demam,sambungnya membeberkan.

Namun, infeksi Rubela sangat berbahaya pada wanita hamil terutama pada kehamilan trimester pertama dapat mengakibatkan keguguran atau bayi lahir dengan cacat bawaan yang disebut dengan Congenital Rubella Syndrome (CRS) dengan kelainan bawaan berupa penyakit jantung, kebutaan dan tuli.

"Karena Campak Rubella ini penyakit menular yang masih sangat tinggi dan resikonya juga cukup berat, terutama pada ibu hamil yang bayinya mungkin saja bisa mengakibatkan kelahiran cacat. Ini yang sangat kita khawatirkan perlu kita cegah, di Indonesia juga masih sangat tinggi,"tambahnya.

Untuk itu pihaknya telah mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan menyukseskan program BICR diantaranya, informasi yang diterima harus benar-benar sampai ke lapisan masyarakat terutama orang tua.

"Apa lagi ini sangat dekat dengan berlangsungnya pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Ini perlu adanya edukasi dan informasi yang jelas supaya tidak menimbulkan bias masyarakat, yang pada akhirnya masyarakat tidak mau melakukan vaksinasi BICR karena baru saja melakukan vaksin Covid,"pungkasnya. (rey/pt)