Kesehatan

Inovasi Baru Dalam Deteksi Dini Kanker Serviks: Tes Urine Sebagai Solusi Praktis

  •   prabawati
  •   2 Februari 2024
  •   1:38pm
  •   Kesehatan
  •   837 kali dilihat

Samarinda - Kanker serviks atau kanker leher rahim masih menjadi momok bagi perempuan. Berdasarkan data Kemenkes penderita kanker sebanyak 36.633 orang dengan angka kematian hampir 18.000 orang per tahun.

Jumlah kasus kanker serviks menempati urutan kedua terbesar setelah kanker payudarah.

Untuk mendeteksi kanker serviks tersebut Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur menerapkan inovasi pemeriksaan untuk mendeteksi melalui DNA Urine.

Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Prov Kaltim, Setyo Budi Basuki menjelaskan tes kanker serviks dengan metode urine hal yang baru, oleh karena itu perlu koordinasi dan sosialisasi dan segera mendapatkan dukungan dari kementerian kesehatan.

"Prevalensi kanker menurut Riskesdas tahun 2018 sebesar 1,4 persen," ungkap Basuki dalam dialog inovasi deteksi dini kanker serviks pada Jum'at (2/2).

Kanker serviks menempati peringkat kedua tertinggi dalam hal angka kematian di Indonesia, karena kurangnya deteksi dini atau keengganan untuk melakukan skrining sehingga penyakit ini sering terdeteksi saat sudah dalam tahap lanjut.

Salah satu faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian akibat kanker serviks adalah kurangnya cakupan pemeriksaan yang menggunakan metode konvensional, yaitu dengan cara membuka kelamin perempuan dan menggunakan alat cocor bebek untuk mengambil sampel cairan dari leher rahim.

Tes urine ini dianggap lebih mudah dan praktis, hanya memerlukan sampel urine yang diambil dengan cara buang air kecil ke dalam botol yang disediakan. Sampel tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium.

Dengan adanya tes urine ini, diharapkan dapat meningkatkan upaya pencegahan dan mengurangi angka kematian akibat kanker serviks.

Mencapai eliminasi kanker serviks pada tahun 2030, diperlukan upaya kolaboratif, termasuk vaksinasi HPV pada 90 persen anak perempuan usia 11-12 tahun, serta pemeriksaan skrining oleh 70 persen wanita di atas usia 40 tahun dan pengobatan bagi 90 persen orang yang terdeteksi mengidap penyakit ini. (Prb/ty).