Keamanan

Diperlukan Persiapan Dalam Menghadapi Insiden Keamanan Siber

  •   prabawati
  •   9 Desember 2021
  •   3:08pm
  •   Keamanan
  •   230 kali dilihat
  •  

Balikpapan - Penanganan atau respon terhadap insiden keamanan siber memiliki tantangan tersendiri, mengingat teknik serangan siber semakin berkembang.

Untuk membangun kemampuan dalam merespon insiden keamanan siber yang efektif, Pemerintah wajib mempersiapkan dan melakukan identifikasi kebutuhan dalam proses penanganan serangan keamanan siber.

Asisten Pengolah Data Keamanan Siber dan Sandi Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Nidaul Muiz Aufa menjelaskan serangan hampir terjadi di Pemerintahan baik Provinsi maupun Kabupaten dan Kota.

Anomali trafik atau serangan siber di Indonesia pada Januari hingga 18 November 2021 mencapai 1,314,027,929. Anomali terbanyak malware, trojan activity dan information leak.

Pria yang kerap di sapa Aufa mengatakan, yang saat ini sering terjadi beberapa Kabupaten dan Kota yang sering ditemui adalah adanya cryptojacking yaitu pemanfaatan server pemerintah yang dilakukan hecker.

"Dan sering kali tidak disadari,"sebutnya saat menjadi narasumber pada Workshop Pengelolaan Kaltimprov-CSIRT di Swiss-Belhotel, Kamis (9/12).

Dari alasan inilah mengapa dibentuk CSIRT dalam organisasi, karena pengaman informasi terbaik pun tidak menjamin untuk kemanan informasi.

"Ini menjadi alasan pembentukan CSIRT di organisasi berdasarkan kerawanan dan  serangan yang ada di luar,"ucapnya.

Pembentukan CSIRT harus betul-betul di pahami, apakah CSIRT ini dibentuk fokus pada kerentanan, keamanan untuk memberikan peringatan dini, kesadaran,  kewaspadaan dan perlindungan serta untuk memastikan kepatuhan terhadap kebijakan keamanan.

Tindakan untuk merespon  insiden siber secara sistematis dengan tujuan meminimalisir kerugian sebagai akibat dari pencurian dari layanan.

Selain itu, menggunakan informasi yang diperoleh selama penanganan insiden, sebagai langkah perbaikan dan persiapan penanganan insiden di kemudian hari. (Prb/ty).