Hiburan

Berawal Dari Kegelisahan, Jadi “Jurnal Tepi Mahakam”

  •   resa septy
  •   23 Januari 2022
  •   1:08pm
  •   Hiburan
  •   235 kali dilihat
  •  

Samarinda - Banyak cara seseorang dalam mengatasi kegelisahan. Entah itu dengan bernyanyi, menonton film, atau bahkan jalan-jalan.

Layaknya sosok Penulis sekaligus Ilustrator muda Buku Cerita Bergambar (Cergam) asal Kota Samarinda Ramadhan S. Pernyata yang menuangkan kegelisahan hatinya melalui narasi visual “Jurnal Tepi Mahakam”.

Sederhana, berangkat dari suara hati Madan (sapaan akrabnya) yang ingin sekali melihat Ikan Pesut Mahakam. Anak sulung dari sosok penulis, sastrawan dan mantan jurnalis serta birokrat di Kaltim Syafruddin Pernyata ini duduk di Tepian Sungai Mahakam untuk menyaksikan satwa yang dinobatkan sebagai ikon Benua Etam.

Lantaran tak menuaikan hasil, pergilah Madan mengikuti saran dari rekan-rekan sejawatnya untuk mengunjungi Desa Pela. Keindahan panorama, kekayaan alam dan budayanya seolah meriuhkan hati Pria berkacamata ini untuk berkunjung berkali-kali menggali informasi.

“Sejak pertama kali mengunjungi Desa Pela sekitar awal 2017 yang lalu, selalu ada rasa penasaran untuk membuat semacam jurnal grafis tentang Desa Pela. Sejak saat itu saya mulai rutin berkunjung ke Desa Pela,” ucap Madan memulai ceritanya kala ditemui di Gerai Salma Shofa Komplek Graha TVRI Asri, baru-baru ini.

Dari semua perjalanan, pertemuan dan perbincangan dengan berbagai pihak yang kemudian mengantarkan Madan menemukan sebuah gagasan baru. Tema tentang wisata berbasis lingkungan dan potensi desain berkelanjutan dinilainya menjadi tantangan untuk disuarakan melalui Cergam.

“Sejak Desember 2019 lalu, saya sudah mulai membuat catatan naskah dan beberapa ide visual untuk Cergam ini. Naskahnya saya buat sesederhana mungkin. Hanya berupa poin-poin perjalanan si tokoh Bagas dengan sepeda motor merahnya dari satu tempat ke tempat lain,” lanjutnya bercerita.

Kisah yang Ia tuangkan dalam Jurnal Tepi Mahakam dimulai dari perjalanan tokoh Bagas di Kota Samarinda,Tenggarong, Kota Bangun, Sangkuliman, Desa Pela, Melintang dan Muara Enggelam. Selain mengetahui potensi alam, tradisi dan budaya, Madan seolah memanjakan pembacanya dengan menampilkan berbagai gambar bangunan-bangunan ikonik masing-masing daerah.

Khususnya Desa Pela, kawasan yang dihuni sebagian besar nelayan dan pembudi daya ikan air tawar ini menjadi sebuah khazanah baru menurutnya dalam memahami lingkungan hidup lewat narasi sederhana. Setelah melihat potensi Desa Pela dan sekitarnya, Madan meyakini bahwa ekowisata akan menjadi pilihan baru dalam sektor pendorong ekonomi daerah.

“Sungguh Bangsa Indonesia ini merupakan bangsa yang besar, bangsa yang kaya akan budaya dan tradisi. Semoga buku ini dapat menginspirasi kita untuk merawat kekayaan alam, tradisi dan budaya bangsa,” katanya seraya berpesan dalam karya Cergamnya.

Jurnal Tepi Mahakam yang pengerjaanya tuntas kurang dari setahun dan rilis di akhir tahun 2021 ini diharapkan dapat menjadi sebuah proyek jangka panjang. Seri turunannya dimana perjalanan si tokoh utama Bagas dan sepeda motornya kembali melakukan petualangan kebeberapa tempat lain di Kaltim atau bahkan berkeliling Indonesia dan menguraikan keindahan, kekayaan potensi wisata alam dan budayanya.

Teruntuk semua pejuang kehidupan, semua insan kamil yang bertumpu pada Sungai Mahakam, Danau Semayang dan Melintang. Terima kasih karena sudah bekerja keras dan hidup dengan kemuliaan. Terima kasih karena sudah menjadi inspirasi,” - Ramadhan S Pernyata. (resa/pt)