Budaya

Tidak Hanya Memikirkan Keuntungan, Regenerasi Penenun Juga Dipikirkan

  •   Teguh Prasetyo
  •   3 Oktober 2021
  •   5:33pm
  •   Budaya
  •   1121 kali dilihat

Berau – Tenun ikat atau kain ikat adalah kriya tenun Indonesia berupa kain yang ditenun dari helaian benang yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam pewarna.

25 tenaga kerja diberdayakan, untuk menyatukan benang untuk menjadi kain tenun dengan motif khas Berau.

Warna kulit yang gelap, rambut ikal, jejeran gigi rapi dan putih serta gaya bahasa yang khas orang Timur. Wajah yang manadakan khas wanita Indonesia Timur bernama lengkap Bernadetha Dua Lise da Silva atau sapaan akrabnya Sonya. Sosok wanita inspiratif bagi warga kampung Tumbit Melayu Kabupaten Berau. Wanita ini merupakan pelopor penggerak perekonomian di Desa Tumbit Melayu.

"Daripada ibu-ibu dirumah bengong tidak ada pekerjaan, lebih baik menenun, bisa menjadi tambahan penghasilan buat keluarga," ujar Sonya sapaan akrab Bernadetha.

Wanita kelahiran Maumere ini sangat suka ditemui dengan awak media. Tawa khasnya membuat kami betah mengobrol dan bersenda gurau di Rumah Tenun Berau Mera’ang baru-baru ini.

Keterampilan menenun sejak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dibawa ke kampung Tumbit Melayu. Awalnya wanita ini hanya bersama sang adik namun sekarang sudah memiliki kelompok yang menyatukan beragam suku, Dayak, Jawa, Lombok, Timur, Bugis, Berau. "Kelompok DALJATIMBUBERAU singkatnya," beber Sonya.

Tatanan kehidupan yang masih melekat dengan budaya mengharuskan para perempuan untuk bisa menenun.

Ini juga sejalan dengan keinginan Ketua Dekranasda Kaltim, Norbaiti Isran Noor yakni Regenerasi pengrajin perlu diperhatikan.  Beliau pernah berujar sudah terlalu sering melihat penenun yang berusia lanjut. Kedepan berharap ingin melihat anak muda yang menjadi pengrajin sekaligus penerus budaya Indonesia.

Sejalan dengan Ketua Dekranasda Kaltim tersebut akan Regenerasi juga diaplikasikan disini. Ada anak - anak yang sedang menggulung benang di rumah tenun ini.

Sonya menuturkan regerenasi sangat penting untuk melestarikan budaya Indonesia. Kami selalu mengajak anak-anak kami ke rumah tenun, setidaknya mereka kenal dengan tenun, setelah kenal mereka pasti menyukainya.

“Saya ajak dan saya beri sejumlah uang kepada anak-anak yang telah menyelesaikan salah satu proses, ini merupakan stimulan agar anak tidak selalu bermain gadget dirumah,” terangnya dengan penuh semangat.

Sangat senang dengan keikutsertaan di Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021. Disini tenun dari Berau akan lebih dapat dikenal lagi. Serta lebih memberikan kita peluang untuk memasarkan produk ke luar bahkan sampai kepenjuru belahan dunia, imbuh Sonya.

Gernas BBI Kaltim 2021 ini juga akan menjadi momentum pertumbuhan dan pengembangan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang mana sebanyak 150 UKM ikut serta ambil bagian di dalamnya. Momen besar ini tentu sekaligus mendorong motivasi baru bagi pelaku usaha di Kaltim untuk semakin maju dan kreatif. Terutama usaha yang telah dikelola oleh BUMDes di Benua Etam.

Untuk diketahui, peluncuran Gernas BBI Kaltim 2021 nantinya akan dilakukan oleh Menteri Koordinator Maritim dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Panjaitan dengan Brand Ambassador Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar dan Gubernur Kaltim, Dr H Isran Noor. (tp/pt)