Budaya

Sape, Alat Musik Kalimantan Mampu Berkolaborasi Dengan Musik Moderen

  •   Edwin Derry Mahatma
  •   23 Mei 2021
  •   7:43am
  •   Budaya
  •   67944 kali dilihat

SAMARINDA – Sape atau lebih dikenal dengan Sampe sekilas alat musik ini mirip dengan gitar. Cara memainkannya pun sama-sama dipetik. Sape yang merupakan alat musik tradisional Kalimantan Timur sering digunakan untuk mengiringi acara-acara hajatan masyarakat Suku Dayak.

Sape terbuat dari kayu Adau yag banyak terdapat di Kalimantan.  Serta menampilkan corak ukiran khas Suku Dayak. Ukiran tersebut sangat dominan dan memenuhi permukaan alat musik yang memiliki panjang sekitar 1 meter itu.

Alat musik tradisional khas Kalimantan mirip dengan gitar yang memiliki dawai dan dimainkan dengan cara dipetik. Alunan yang keluar dari alat musik ini sangat indah. Hal yang menarik lagi dari Sape adalah bisa dikolaborasikan dengan alat musik modern, seperti gitar, bass, drum dan keyboard.

Sape biasa dimainkan untuk mengiringi berbagai tari khas Dayak pada perayaan-perayaan kesenian yang penuh dengan kegembiraan. Tidak hanya itu, Konon dulunya alat musik ini juga digunakan untuk mengiringi proses pengobatan seseorang yang terserang penyakit.

Salah satu Komitmen Provinsi Kalimantan Timur melalui Dinas Pariwisata serta Dinas Komunikasi dan informatika  bahwa akan selalu melestarikan budaya khas Kalimantan khususnya Kaltim.

Saat ini di Kaltim,  Sape sangat berkembang peminatnya. Untuk mempelajari dan memaikan alat musik ini sangat besar. Tidak jarang juga mereka melakukan pengembangan dengan memainkan lagu moderen menggunakan Sape.

Berbagai jenis jumlah dawai yang dimiliki Sape, ada yang  antara empat sampai enam. Selain itu, ada pula Sape yang berdawai dua, jenis ini disebut Sape’ Karaang yang biasa digunakan untuk mengiringi tari-tari yang memiliki gerakan menghentak.

Alat Musik Sape tersebar di wilayah Samarinda, Malinau, Kutai Barat dan Mahakam Ulu ini, dapat terbagi menjadi dua nada yakni Tubunsitun dan Sakpakok. Nada Tubunsitun biasanya memiliki tempo yang lambat dan menghasilkan nada yang khas. Sementara, Sakpakok memiliki nada yang lebih cepat dan dinamis. (www.idntimes.com/Edwin/pt).