Bukan Banyak Hacker, Lemahnya Keamanan Digital Bikin Indonesia Rawan Serangan Siber

Samarinda – Indonesia disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat serangan siber tertinggi di dunia. Namun tingginya serangan tersebut bukan disebabkan oleh banyaknya peretas lokal, melainkan karena masih lemahnya pengelolaan keamanan perangkat dan sistem digital yang digunakan secara masif.


Pakar Teknologi Informasi dan Komunikasi sekaligus Founder & CEO Cyber Army Indonesia, Girindro Pringgo Digdo, menjelaskan bahwa banyak perangkat dan perangkat lunak di Indonesia yang digunakan tanpa pengamanan memadai dan dibiarkan begitu saja. Kondisi ini membuat perangkat-perangkat tersebut mudah terinfeksi dan berubah menjadi zombie, lalu dimanfaatkan sebagai jalur transit untuk melancarkan serangan siber ke berbagai negara.


“Jadi banyaknya serangan itu bukan berarti Indonesia memiliki banyak hacker. Bukan karena banyak peretas yang melakukan serangan, tetapi karena banyak komputer dan perangkat yang sudah menjadi zombie,” ujarnya pada Bedah Ruang Siber: Strategi perlindungan aset digital dalam transformasi siber, secara virtual, Rabu (21/1/2026).


Girindro menilai kondisi tersebut terjadi akibat proses transformasi digital yang berlangsung secara ugal-ugalan. Pertama, digitalisasi dilakukan secara masif di hampir semua sektor. Kedua, kecepatan dan tampilan sistem lebih diutamakan dibandingkan dengan ketahanan dan keamanannya.


“Ketiga, aspek keamanan sering kali hanya berhenti di dokumen, struktur organisasi, peresmian, sertifikat, hingga slide presentasi yang penuh warna dan grafik statistik,” ungkapnya.


Ia menambahkan, implementasi teknis seperti pengamanan sistem, pemantauan (monitoring), dan manajemen aset digital masih sangat lemah. Akibatnya, sistem digital yang besar dan masif justru rapuh, sementara perangkat-perangkat yang lemah berpotensi berubah menjadi botnet dan bagian dari infrastruktur serangan siber global.


“Kebocoran data pun banyak terjadi, baik karena faktor teknis maupun nonteknis,” tambah Girindro.


Menurutnya, selama laju digitalisasi lebih cepat dibandingkan penguatan keamanan, Internet of Things (IoT) berkembang lebih cepat dari tata kelola (governance), serta inovasi melampaui manajemen risiko, maka ekosistem digital akan tumbuh besar namun rapuh.


“Jika sebuah negara memiliki banyak sistem online tetapi literasi dan kesadaran keamanan sibernya masih rendah, maka negara tersebut hanya akan menjadi sumber traffic anomali dalam peta serangan siber global,” pungkasnya. (Prb/ty)