Samarinda Seberang Jadi Lokus Sosialisasi dan Advokasi Pencegahan Kekerasan

Samarinda — Dalam upaya mendukung Program Three Ends yang digagas oleh KPPPA RI yaitu Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan, Akhiri Perdagangan Manusia dan Akhiri Kesenjangan Ekonomi Terhadap Perempuan. Melalui Forkomda PMP3A “Puspa Mahakam” Kaltim menggelar, Sosialisasi dan Advokasi Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak di Ruang Publik dan Domestik, berlangsung di Kelurahan Baqa Kecamatan Samarinda Seberang, Rabu (21/11).

Kepala Dinas Kependudukan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A)  Kaltim Halda Arsyad, melalui Kabid PPPA Noer Adenany, mengatakan dalam sambutannya kekerasan menjadi fenomena sosial yang terjadi di banyak tempat. Kekerasan bukan saja terjadi dalam ruang publik, tetapi terjadi juga di ruang domestic (rumah tangga). Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi masalah yang dapat terjadi di semua kelas sosial masyarakat. Sebagian besar korban KDRT adalah perempuan, yaitu istri atau anak perempuan. 70% pelaku adalah suami, walaupun ada juga yang sebaliknya.

“Provinsi Kaltim dalam kurun waktu 2 tahun terakhir (2015-2017), berdasarkan data dari aplikasi pencatatan kekerasaan (Simfoni) DKP3A Kaltim, terjadi peningkatan kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak sebesar 50,73 % dengan perincian pada tahun 2016 sebanyak 388 kasus sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 761 kasus. Kekerasaan fisik, psikis dan seksual masih seringdialami oleh perempuan dan anak,” ujarnya.

Di Kaltim sendiri, jumlah kasus kekerasan paling banyak terjadi di Kota Samarinda, terjadi di ranah rumah tangga dengan rentang usia 25-44 tahun, dengan latar belakang pendidikan SLTA dan jenis kekerasan yang paling banyak terjadi yaitu berupa kekerasan fisik

Untuk wilayah Kota Samarinda paling banyak terjadi kasus kekerasaan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2015 yaitu sebanyak 139 kasus, sedangkan pada tahun 2017 terjadi peningkatan yaitu sebanyak 415 kasus.

“Kasus kekerasaan yang paling menonjol di wilayah Samarinda terjadi di Kecamatan Samarinda Seberang, kondisi di SamarindaSeberang terdapat kasus lain seperti : kasus pernikahan usia dini, perkelahian, anak punk, kemiskinan, narkoba, ngelem  bahkanwilayah tersebut pernah mendapat predikat sebagai Kampung Zombi,” imbuh Dany.

Ia berharap melalui kegiatan ini, dapat membangun empati masyarakat agar dapat melaksanakan upaya preventif, kuratif dan rehabilitatif terkait permasalahan perempuan dan anak, dan memiliki fungsi melakukan penjangkauan, identifikasi kondisi dan layanan yang dibutuhkan perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. (DKP3AKaltim/rdg).

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − 10 =