Revolusi 4.0 Guna Pengembangan Ekonomi Berkelanjutan

SAMARINDA – Temu Responden menjadi sesi pertama dalam rangkaian acara Bank Indonesia Fahion Fest 2018 bertema Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital. Ini menarik karena dilihat dari perkembangan teknologi telah sangat cepat mendisrupsi seluruh lini di dunia.

Era revolusi industri 4.0 ini ditandai maraknya digitalisasi ekonomi yang terjadi secara global maupun nasional. Adapun salah satu penanda utama revolusi ini adalah digunakannya Big Data. Big Data adalah kumpulan data besar dan kompleks yang didapat dari banyak sumber (baik primer maupun sekunder) guna membuat keputusan yang lebih baik.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur Muhammad Nur mengatakan berkaitan pengembangan ekonomi, pemanfaatan Big Data diproyeksikan dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi dikarenakan memberikan peningkatan produktivitas perekonomian.

Ditambahkan di Indonesia, pemanfaatan Big Data telah digunakan secara aktif dalam peningkatan layanan nasabah dan mendeteksi maupun mencegah penipuan (fraud) sektor lembaga keuangan. Di sektor perdagangan dan transportasi, Big Data juga telah dimanfaatkan secara intensif meningkatkan transaksi dan memperluas target pelanggan baru.

Bank Indonesia pun, lanjut Nur, mengembangkan beberapa indikator baru berbasis Big Data seperti indikator lowongan kerja, pasar properti, e-commerce dan Indonesia’s Economic Policy Uncertainty (EPU) Index. Indikator-indikator tersebut diharap mampu membantu pemerintah mengambil kebijakan dan memitigasi risiko yang kemungkinan terjadi pada masa akan datang.

“Revolusi Industri juga ditandai tumbuhnya teknologi dalam industri keuangan. Yaitu dikenal dengan Financial Technology atau FinTech. Ini muncul seiring perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini didominasi pengguna teknologi informasi dan tuntutan hidup yang serba cepat,” jelasnya.

FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat. Awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan pembayaran dalam hitungan detik.

Menanggapi berkembangnya sektor Fintech Indonesia, pada tahun 2016 Bank Indonesia telah mendirikan Fintech Office yang bisa menjadi wadah asesmen, mitigasi risiko dan evaluasi model bisnis dan produk/layanan Fintech. Serta inisiator riset terkait kegiatan layanan keuangan berbasis teknologi.

Acara Temu Responden tahun 2018 ini mendatangkan narasumber seperti dari Airy yang menjelaskan Big Data beserta pemanfaatannya dalam industri secara luas. Dan dari perwakilan OVO yang menjelaskan perkembangan fintech di Indonesia dan potensi serta tantangannya ke depan.

“Saya berharap agar acara ini berlangsung lancar dan memberikan manfaat semua pihak. Karena paparan dari narasumber profesional diharapkan wawasan kita semakin luas dan siap menghadapi revolusi industri 4.0 demi pengembangan ekonomi yang berkelanjutan,” tukas Muhammad Nur mengakhiri sambutannya. (DISKOMINFO/Lely)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

four × 4 =