Program 1000 HPK Bisa Tekan Angka Stunting

Samarinda — Stunting adalah masalah kurang gizi kronis dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan. Stunting terjadi mulai janin dalam kandungan dan nampak saat berusia dua tahun.

Kekurangan gizi usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak. Ini menyebabkan penderita mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa. Kemampuan kognitif penderita juga berkurang, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang.

Petugas Kesehatan Puskesmas Sungai Kunjang Ida Juandi menerangkan kunci menghindarkan anak dari kasus stunting adalah program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Bila berjalan optimal dengan gizi tepat, ditambah pencegahan penyakit yang baik maka anak mengalami tumbuh kembang optimal.

Dikatakan, 1000 hari pertama kehidupan merupakan fase terpenting menanggulangi stunting secara dini. Karena pada masa ini, pertumbuhan anak dapat di intervensi. Untuk diketahui, pondasi utama kehidupan manusia dimulai sejak konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir. Pada periode tersebut, terjadi perkembangan otak, pertumbuhan yang begitu cepat mulai dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun.

“Ada beberapa faktor penyebab stunting yang terjadi seperti praktek pengasuhan yang tidak baik, kurang pengetahuan kesehatan dan gizi sebelum dan masa kehamilan. Bisa juga karena anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif, anak usia 0-24 bulan tidak menerima MP-ASI dengan baik. Faktor lain karena ibu hamil belum mengonsumsi suplemen zat besi memadai,” jelas Ida ditemui disela penyuluhan sadar gizi beberapa waktu lalu.

Menurut Ida, masalah stunting dan kekurangan gizi pada ibu hamil seringkali tidak disadari baik individu, keluarga maupun masyarakat.

“Karenanya menjadi penting bagi orang tua khususnya ibu memperhatikan gizi anak pada 1000 HPK. Dengan gizi yang optimal selama 1000 HPK ini dapat mencegah stunting dengan memastikan gizi optimal setiap tahapan,” paparnya. (Diskominfo/Cht)

Puskesmas Harus Utamakan Pelayanan Ramah Anak

SAMARINDA – Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) merupakan fasilitas pelayanan kesehatan pertama dan utama dalam memberi pelayanan pemenuhan hak kesehatan masyarakat termasuk anak – anak.

“Apabila semua Puskesmas dapat menyelenggarakan pemenuhan hak kesehatan dan ramah anak, maka permasalahan kesehatan anak terpenuhi,” ungkap Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov. Kaltim, Halda Arsyad pada Pelatihan Pelayanan Ramah Anak di Puskesmas Bagi Tenaga Kesehatan, di Selyca Mulia Samarinda, Selasa (26/3).

Berkaitan pemenuhan hak kesehatan anak, menurut Halda, Pemerintah wajib menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan komprehensif agar memperoleh derajat kesehatan optimal sejak dalam kandungan. Penyelenggaraan Puskesmas ramah anak juga menjadi salah satu indikator Kabupaten/Kota layak anak yang harus dilakukan secara proaktif. 

Selain memberikan pelayanan kesehatan, Puskesmas berperan dalam pemberdayaan keluarga agar paham dan mampu memenuhi hak kesehatan anak. Serta menjadi pusat informasi dan dukungan agar mempraktekan pengetahuan kesehatan dalam kehidupan. 

Tingginya Perkawinan Anak, Identik Dengan Perjodohan

Tenggarong – Tingginya perkawinan anak tidak lepas dari rendahnya tingkat pendidikan, tingginya angka kemiskinan, norma sosial dan budaya yang berlaku serta ketidaksetaraan gender dalam keluarga.

“Perkawinan usia anak juga identik dengan perjodohan yang dilakukan orang tua dengan alasan ekonomi,” ungkap Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kaltim, Halda Arysad, pada Workshop Pencegahan Perkawinan Usia Anak, di ruang Serbaguna Kantor Bupati Kukar, Senin (25/3).

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan satu dari empat anak perempuan Indoesia menikah usia kurang 18 tahun. Di tahun 2017 terdapat 25,71 % anak perempuan menikah di bawah 18 tahun. Di 2018, terdapat 720 kasus perkawinan di usia anak dan 300.000 rata-rata anak perempuan dibawah 16 tahun menikah setiap tahunnya.

Halda menjelaskan kasus perkawinan usia anak cenderung meningkat. Data per 30 juni 2018 ada 953 kasus. Terbanyak di kabupaten Kutai Kartanegara 176, paser 157 dan kota Samarinda 109 kasus. Sisanya tersebar di Kabupaten/Kota lain dan didominasi kaum perempuan.

Perkawinan usia anak dilarang, lanjutnya, karena memiliki resiko meninggal lima kali lebih besar dibanding perempuan usia 20-24 tahun. Secara umum, kematian dikarenakan kehamilan merupakan penyebab utama kematian perempuan usia 15-19 tahun.

“Untuk itu, masyarakat pun harus memahami menikahkan perempuan dibawah umur sangat tidak dianjurkan. Peran orang tua diharapkan lebih banyak mendorong putra dan putrinya menikah setelah menginjak usia ideal,” pungkasnya.

Kendalikan DBD Dengan PSN 4M

Samarinda — Dinas Kesehatan Kota Samarinda mengadakan Penyuluhan Dan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di perumahan Sempaja Lestari Indah dan Korpri Kelurahan Sempaja Timur – Kecamatan Samarinda Utara Kota Samarinda, Jum’at lalu (22/3).

Acara bertema Lawan Demam Berdarah Untuk Keluarga Kita itu dihadiri Ketua RT, RW dan Masyarakat sekitar. Hadir juga Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Bagian Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Bengkuring Jojor N Silaban bersama Dr. Teori Karo-Karo.

Dalam kesempatan itu Jojor N Silaban menjelaskan untuk mencegah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) menerapkan perilaku 4M. Pertama menguras tempat penampungan air minimal satu minggu sekali. Kemudian Menutup penampungan air. Lalu mengubur barang bekas yang tidak dipakai.

“Dan keempat mencegah gigitan nyamuk. Bisa menggunakan lotion anti nyamuk, memakai kelambu, dan menyemprotkan pembasmi anti nyamuk guna mencegah gigitan.” tegas Jojor.

Dirinya juga meminta masyarakat membentuk kader Juru Pemantau Jentik (jumantik) setiap wilayah khususnya Sempaja Lestari dan Korpri agar tidak ada warga yang terkena demam berdarah lagi.

“Kita harus membentuk kader jumantik setiap rumah tangga. Jadi yang memantau jentik nyamuk itu kita sendiri yang ada di dalam rumah itu,” pungkasnya.

Dirinya juga mengharapkan seluruh masyarakat, RT dan RW melakukan gotong royong, membersihkan gorong-gorong, parit dan tempat yang disinyalir ada jentik nyamuk DBD. Setiap tiga bulan sekali pihak puskesmas memantau kader jumantik di daerah.

“Saya minta kepada warga dan masyarakat kalo ini sudah di jalankan,  Insya Allah lingkungan kita akan bebas dari demam berdarah,” ucap Jojor.

Berdasarkan laporan Puskesmas Bengkuring, tercatat ada 20 orang kelurahan Sempaja Timur terkena DBD. Namun untuk korban yang meninggal sampai saat ini belum ada laporan. (Diskominfo/Rey)

Masyarakat Diharap Dukung Keberadaan Posyandu

SAMARINDA— Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dibantu petugas kesehatan dengan tujuan diantaranya menurunkan Angka Kematian Bayi, Ibu Hamil dan Nifas, membudayakan Norma Keluarga Kecil yang Bahagia Sejahtera (NKKBS) serta meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kesehatan. 

Sayangnya kegiatan Posyandu ini belum sepenuhnya mendapat respon positif dari seluruh masyarakat. Hal ini terlihat pada kunjungan di Posyandu Mawar Loa Bakung yang hanya didominasi oleh Ibu Rumah Tangga. Selebihnya enggan datang dengan alasan kesibukan di tempat kerja termasuk masalah pemahaman masyarakat yang masih minim tentang pentingnya kegiatan Posyandu itu sendiri.

Salah satu petugas Posyandu, Juandi, menuturkan selama ini petugas kesehatan di Posyandu tempat dirinya bertugas sudah terus meningkatkan pelayanan agar masyarakat tertarik untuk datang, tetapi menurutnya  pengaruh Ibu yang bekerja sehingga tak sempat dan kurang tertarik sehingga hanya Ibu yang di rumah saja yang kebanyakan datang. 

“Mungkin juga menurut mereka kurang menarik karena pelayanan seperti itu saja seolah-olah hanya pelayanan, padahalkan mereka harus menimbang, rutin melihat perkembangan, pertumbuhan anak mereka. Kita sih berharap mereka lebih peduli dan mendukung keberadaan Posyandu di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka,” ungkapnya. 

Keberadaan Posyandu sendiri lanjutnya, salah satunya  untuk mendukung perbaikan gizi dan kesehatan balita. Di Posyandu inilah orang tua akan mendapatkan pendidikan dan pengetahuan tentang gizi dan kesehatan balita serta makanan-makanan yang baik untuk mendukung pertumbuhan balita. (Diskominfo / Cht)

Penderita HIV/AIDS Didominasi Usia Produktif

SAMARINDA – Penderita HIV/AIDS di Kaltim lebih banyak diidap usia produktif dengan latar belakang berbagai profesi. RSUD Abdul Wahab Sjaranie (AWS) Samarinda melaporkan sejak tahun 2005 hingga desember 2018 telah dilakukan tes terhadap 55.885 orang, dengan hasil 2.299 orang positif HIV.

Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prov.Kaltim, Halda Arsyad mewakili Gubernur Kaltim H.Isran Noor pada acara Rapat Koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS Prov. Kaltim, di ruang Tepian 2 Kantor Gubernur Kaltim, Rabu (20/3).

Menurutnya, berdasarkan data Dinas Kesehatan Prov.Kaltim sejak tahun 1993 hingga 2019, tercatat 488 orang meninggal dunia karena HIV/AIDS.

Halda merincikan penderita HIV terbanyak pegawai swasta 1.194 orang, ibu rumah tangga 507 orang, pengangguran 319 orang, Ibu hamil dan akan melahirkan 103 orang. Ada juga PNS/pensiun 83 orang, mahasiswa 25 orang, pelajar 14 orang dan guru atau dosen tercatat 7 orang.

Kondisi demikian, menurutnya, sangat memprihatinkan dan perlu upaya penanggulangan HIV/AIDS terpadu lintas sektor melibatkan semua elemen masyarakat.

“Semua pihak harus bersatu padu.Ddisamping terus melakukan pengobatan bagi penderita menggunakan obat anti retroviral (ARV) dengan tujuan melemahkan virus HIV. Juga melaksanakan pola hidup sehat, tidak mengkonsumsi narkoba dan selalu berfikir positif,” ujarnya.

Dia melanjutkan, penyuluhan bahaya HIV/AIDS harus terus dilaksanakan. Termasuk memberi perlindungan atau tidak mendiskriminasi penderita HIV/AIDS. Mereka harus mendapatkan jaminan hidup seperti warga masyarakat biasa.

Seperti diketahui penyakit AIDS menyebar keseluruh dunia dan permasalahannya semakin pelik jika tidak diatasi. Estimasi Kementerian Kesehatan Medio 30 Desember 2017 telah terdaftar 280.623 penderita HIV diantaranya  102.667 sudah menjadi penderita AIDS. Dan tahun 2018 diperkirakan ada meningkat 836.256 penderita HIV.

ARV Salah Satu Solusi Pengobatan AIDS

SAMARINDA – Banyak masyarakat beranggapan human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) dekat dengan kematian. Sehingga yang terlintas ketika mendengar HIV/AIDS adalah tutup usia. Padahal HIV bukan lagi penyakit mematikan yang tidak ada obatnya.

Perkembangan dunia pengobatan kini HIV/AIDS ada obatnya yaitu Anti Retroviral (ARV). Untuk dapat bertahan hidup, pasien HIV/AIDS perlu minum ARV setiap hari. Ini membantu mengendalikan virus dan memperlambat efeknya pada tubuh sekaligus menjaga kekebalan.

“Jadwal minum obat ARV tidak boleh meleset agar bisa menekan jumlah  virus. Jika tidak disiplin maka obat akan menjadi resisten terhadap tubuh,” ungkap Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Kaltim Jurnanto pada Rapat Koordinasi KPA Kaltim, di Ruang Tepian 2 Kantor Gubernur Kaltim. Selasa (20/3).

Mengkomsumsi obat yang sama seumur  hidup, lanjutnya, memungkinkan penderita mengalami kejenuhan atau kebosanan. Namun untuk mencegahnya dibutuhkan dukungan keluarga, sehingga tidak merasa putus asa dan memiliki tanggung jawab pada dirinya.

Jurnanto mengatakan virus HIV/AIDS mudah mati dan sangat sulit ditularkan. Ini karena hanya dapat ditularkan  melalui hubungan seksual serta menggunakan narkoba dengan jarum suntik yang tidak steril.

“HIV/AIDS bisa dicegah, jadi tidak perlu takut. Dengan berprilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah terjadinya penularan HIV,” tegasnya.

Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) memiliki hak sama dengan orang lain untuk bersosialisasi, bekerja dan berkeluarga. Selain itu Virus HIV tidak akan menular kalau berpelukan, bersentuhan menggunakan alat makan bersama dan tinggal serumah dengan ODHA.

Bina Lansia Harus Terus Diperhatikan

Samarinda — Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) Kaltim memberi pelatihan Program Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan. Peserta berasal dari Kota Samarinda yang merupakan kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL), kader Kampung KB, UPT petugas tingkat kecamatan dan para PLKB, serta Pelaksana Pusat Pelayanan Konseling Keluarga Sejahtera (PKKS).

Direktur Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan Rentan BKKBN RI, Widati menyebut pembinaan lansia terbagi menjadi dua. Diantaranya potensial dan tidak potensial. Dirinya meminta Pemerintah Pusat, provinsi dan kabupaten/kota melakukan pemberdayaan lansia potensial agar tetap sehat, aktif dan produktif sehingga menjadi lansia tangguh.

“Lansia jangan sampai terlantar tetapi diberdayakan agar mereka tetap sehat, aktif dan produktif sehingga tidak menjadi beban keluarga,” katanya.di Hotel MJ Samarinda, Senin (18/3).

Sedangkan bagi yang tidak potensial, lanjutnya, diwajibkan keluarganya dan juga Kader BKL memperhatikan dari sisi kebutuhan hingga perlengkapan lainnya.

“Nah ini yang menjadi perhatian serius bagi lansia yang tidak potensial. Karena kalau terjadi sesuatu harus diidentifikasi. Dan kalau diindentifikasi itu berat maka harus koodinasi dengan puskesmas setempat,” ucapnya. (Diskominfo/Cht) 

Akreditasi Puskesmas Tingkatan Mutu Pelayanan

SAMARINDA – Pembangunan kesehatan merupakan aspek penting pembangunan Nasional. Dalam meningkatkan pelayanan kesehatan yang setara dan merata di Kaltim, Pemerintah telah melakukan beberapa upaya diantaranya melakukan akreditasi sejumlah fasilitasi kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Hj. Rini Retno Sukesi mengatakan penerapan standar pelayanan mutu akreditasi layanan kesehatan pertama dapat dimulai di puskesmas, yang sebelumnya hanya berlaku untuk rumah sakit.

“Saya optimis semua puskesmas di Kaltim terakreditasi ditahun 2019 ini,” ujarnya, di Hotel Bumi Senyiur Samarinda belum lama ini.

Diapun menjelaskan hingga saat ini sudah ada 136 dari 187 puskesmas sudah terakreditasi pada 103 kecamatan di Kaltim. Selaian puskesmas, juga ada 36 dari 53 rumah sakit pemerintah maupun swasta sudah terakreditasi dan paripurna.

Akreditasi Puskesmas, lanjutnya, adalah pengakuan terhadap puskesmas diberikan oleh lembaga independen penyelenggara akreditasi yang ditetapkan Menteri. Setelah dinilai puskesmas memenuhi standar pelayanan fasilitasi kesehatan tingkat pertama untuk meningkatkan mutu pelayanan secara berkesinambungan.

Selain itu, dengan akreditasi puskesmas diharapkan membawa perubahan dalam meningkatkan mutu kesehatan  yang lebih baik, guna mndorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat di daerah.(Diskominfo/praba)

Masyarakat Belum Prioritaskan Kesehatan Gigi dan Mulut

SAMARINDA — Kesehatan gigi dan mulut masih belum cukup mendapat perhatian dari masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat belum memahami pentingnya kesehatan gigi dan mulut dalam mendukung fungsi pengunyahan, bicara dan estetik serta sangat besar pengaruhnya pada kehidupan. 

Hal ini dituturkan drg. Tiara Asrining Pratiti, dokter gigi yang bertugas di RS Hermina Samarinda. Tiara mengaku masih minimnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mulut dan gigi sehingga pasien yang datang sudah dengan keadaan kesehatan mulut yang tidak optimal.

“Dari pasien yang datang, kebanyakan mereka kurang prioritaskan kesehatan mulut dan gigi. Mereka datang jika sudah parah sakitnya. Padahal 6 bulan sekali dianjurkan untuk datang ke dokter gigi guna menjaga kebersihan dan kesehatan mulut dan gigi,” tutur Tiara di ruang kerjanya, Senin (18/3).

Apabila mengabaikan kesehatan gigi dan mulut, lanjutnya, akan menjadi sarang kuman di rongga mulut yang berakibat kerusakan gigi. Kerusakan gigi diawali proses karies dan peradangan dari sisa-sisa makanan yang dibiarkan sehingga terjadi pembusukan.

Selain itu terdapat bakteri penyebab kerusakan gigi yaitu streptococcus mutans. Bakteri menyebabkan infeksi jaringan gusi sehingga bisa masuk ke aliran darah. Akibatnya terjadi peradangan di bagian tubuh lain, seperti ginjal, sendi, sakit kepala yang berkepanjangan dan organ tubuh lainnya.

“Menjaga kesehatan gigi dan mulut harus dimulai sejak pertama kali gigi susu anak tumbuh. Sedini mungkin anak-anak harus diajarkan untuk merawatnya. Karena kalau sudah infeksi memengaruhi pertumbuhan gigi tetapnya. Kalau dari kecil sudah diajarkan menjaga kesehatan rongga mulut otomatis kebiasaan itu akan terbawa sampai besar,” paparnya. 

Lebih lanjut Tiara berharap masyarakat dapat sadar sedini mungkin untuk merawat gigi. Kesehatan gigi yang baik merupakan kombinasi dari perawatan sehari-hari yang tepat dimulai dari menggosok gigi dan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara rutin ke dokter gigi setidaknya enam bulan sekali. (Diskominfo/Cht)