Festival Erau 2019 Resmi Di Buka

Festival Erau 2019 Resmi Di Buka

Tenggarong- Sultan Ing Martadipura H. Adji Muhammad Arifin, membuka secara resmi Festival Adat Erau 2019, yang berlangsung di Museum Mulawarman, Minggu (8/9).

Pembukaan tersebut didampingi Gubernur Kalimantan Timur, H Isran Noor, Bupati Kukar Edi Damansyah,  dengan di iringi dentuman keras yang berada di depan Museum Mulawarman Tenggarong sebagai tanda pembukaan Erau 2019.

Festival yang bertemakan Eroh Berpijak Awal, Kerabat Tirakat, Kampung Tirakat, Rakyat Tirakat, Berharkat Beberkat. Juga dihadiri Walikota Samarinda H. Syaharie Ja’ang, Wakil Walikota Samarinda HM Barkati, Bupati Kutim Ismunandar serta pejabat lainnya.

Gubernur Kaltim H Isran Noor menyampaikan, penyelenggaraan Erau Adat Kesultanan Kutai Kartanegara merupakan peristiwa sakral yang harus tetap dijaga untuk melestarikan adat istiadat dan budaya sekaligus menjadi momentum untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kaltim tahun 2019.

“Erau Adat Kutai ini peristiwa sakral yang harus kita lestarikan. Bukan hanya itu, kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk menyukseskan tahun kunjungan wisata Kaltim tahun 2019,” kata Isran.

Menurutnya, Kaltim sangat terbuka dengan kultur berbagai daerah di nusantara, Upaya dalam melestarikan dan mewariskan nilai-nilai adat budaya ini harus menjadi kewajiban bersama agar tetap dihargai bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia.

Lanjutnya,  Kaltim sangat terbuka dengan kultur berbagai daerah di nusantara, Upaya dalam melestarikan dan mewariskan nilai-nilai adat budaya ini harus menjadi kewajiban bersama agar tetap dihargai bangsa sendiri maupun bangsa lain di dunia.

“Orang Kutai sejak dulu tidak pernah menolak kedatangan budaya dari seluruh nusantara. Semuanya diterima dengan lapang dada. Dan itu budaya Kutai. Oleh sebabnya, Kaltim khususnya Kutai Kartanegara menjadi penyumbang dan kontributor persatuan dan kesatuan bangsa,”Ucapnya.

Bupati Kutai Kartanegara Dalam kesempatan yang sama menambahkan, kegiatan Adat Erau tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dimana erau selalu menjadi agenda rutin yang bersamaan dengan agenda tahunan Nasional Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu Tenggarong Internasioan Folk Arts Festival (TIFAF).

Dijelasnakanya, Tahun ini, acara adat erau,  dilaksanakan sendiri oleh yang mulia sultan beserta kerabat khusus adat eraunya. Dulunya kan jadi satu dengan kegiatan Pemkab Kukar yaitu hari ulang tahun Tenggarong atau TIFAF. Ini merupakan hasil musyawarah/rapat kami bersama yang mulia sultan, dimana erau ini dilaksanakan sendiri. Nanti tanggal 21 September baru kita lanjutkan dengan TIFAF.

Berharap, budaya adat Kutai serta ajang internasioanl ini akan terus berkembang di tanah Kutai. Selain menjaga tradisi budaya khas kerajaan Kutai, juga dapat selalu memperkenalkan kepada dunia bahwa kerajaan Kutai juga kaya akan budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh turun temurun keluarga kesultanan Kutai.

Acara juga dirangkai dengan menyalakan 7 buah brong/obor yang dilakukan oleh pejabat daerah di Kaltim yakni Gubernur Kaltim H. Isran Noor, Bupati Kukar Edi Damansyah, Walikota Samarinda H. Syaharie Ja’ang, Wakil Walikota Samarinda HM Barkati, Bupati Kutim Ismunandar serta pejabat lainnya.

Diketahui, Tiang Ayu merupakan tombak pusaka yang disematkan di sebuah kantung kain berwarna kuning. Tombak pusaka itu bernama sangkok piatu, tombak milik raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Setelah ritual tersebut dilanjutkan dengan upacara pembukaan dan disuguhkan tarian senandung Melayu Kutai.

Sebelumnya Pesta Adat Erau 2019, telah melakukan prosesi Beluluh oleh Sultan Ing Martadipura H. Adji Muhammad Arifin dan permaisuri, Rabu (4/9/2019) di Kedaton Kutai Kartanegara yang berlangsung dengan baik.

Untuk Replika Naga nantinya akan diturunkan ke sungai Mahakam yang dinamakan Belimbur pada acara puncak erau, Minggu (15/9/2019). Selanjutnya akan dilanjutkan oleh Pemkab Kukar dengan kegiatan Tenggarong Internasional Folk Arts Festival (TIFAF) yang akan dimeriahkan oleh para peserta internasional dari beberapa negara baik Eropa maupun Asia juga wilayah bagian Timur Tengah. (Diskominfo/Rey)

Dokumentasi Persiapan Festival Erau 2019

Para Dewa meminta izin kepada Sultan Kutai Kartanegara sebelum melakukan prosesi Menjamu Benua di 3 titik yang ada di Tenggarong, Mangkurawang, Museum dan Rapak Mahang.

 

Prosesi Adat Beluluh yang menandakan Erau Adat Kutai. Upacara Sakral tersebut dilakanakan di dalam ruang Utama Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 

Museum Mulawarman yang di tutup terhitung dari tanggal 2-16 september 2019, akan buka seperti biasa pada 17 september 2019.

 

Sepasang replika Ular Naga Bini dan Replika Ular Naga Laki yang memakan waktu selama dua minggu, dengan menggunakan bahan kayu, rotan serta kain dan lem. Dua ekor naga yang telah dibentuk lalu di balut dengan kain kuning. Setelah itu di pasang kepalanya dilanjutkan dengan menempekan sisik yang terbuat dari kain yang terdiri dari 12 warna, panjang ular naga ini mencapai 17 meter dengan diameter 85 sentimeter.

 

Replika Ular Naga Bini. Didepan naga tersebut telah diletakkan sesajen yang berisikan buah pisang, pinang gula merah, telor ayam kampong, rokok dari daun, dan kelapa yang di atasnya ditancapkan jarum, selain itu juga ada dupa yang di bakar dan di jaga supaya terus menyala

 

Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing

Persiapan Pembukan Erau 2019

KUKAR- persiapan pembukaan pesta adat budaya Kutai Kartanegara (Erau ) di kab.Kutai kartanegara pada minggu 8/9, sedang tahap perampungan  ,Upacara adat bertempat di museum Mulawarman dan di Kedaton kutai kartanegara.

Beberapa ruangan dan halaman museum dibersihkan dan di perindah, untuk upacara pembukaan Erau .

Sebelumnya telah diadakan prosesi Beluluh yang dilakukan Sultan HAM Arifin dan permaisuri yang dilakukan di Kedaton Kutai Kartanegara (4/9).

“Persiapan mulai dikerjakan untuk pembukaan di hari minggu (8/9),replika  Naga untuk acara puncak sudahh dipersipkan”, ucap pak yus sebagai panitia pelaksana.(5/9)

Air beluluh sendiri berasal dari air hkatam AlQuran yang dilakukan sehari sebelumnya.

Dalam adat istiadat kutai Kartanegara, Erau diadakan 2 tahun sekali ,selama 1 minggu kegiatannya, Hal ini merupakan Kebudayaan turun temurun di kesultanan Kutai Karta negara, Dan akan terus dilestarikan.

 

kegiatan dari Erau yang ditunggu tunggu para masyarakat Kutai kartanegara iyalah puncaknya .
Dengan melarungkan naga kesungai mahakam,Dan belimbur .(Diskominfo/Bgs)

2 Acara Besar Di Kutai Kartanegara

Samarinda-Erau Adat Kutai & 7th International Folk Art Festival yang di adakan di kab. Kutai Kartanegara berlangsung pada tanggal 3 sampai 16 september 2019. (4/9)

Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah, Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tradisi keraton.

Pada September 2019 bakal ada dua gelaran budaya yang sangat menarik untuk ditonton. di Kalimantan Timur, tepatnya Tenggarong, Ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, juga ada pesta adat Erau dan Tenggarong Internasional Folk and Art Festifal (TIFAF), yang tak kalah serunya.

Beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sudah menetapkan 3-16 September untuk menggelar pesta adat Erau dan pada 21 hingga 29 September dijadwalkan gelaran International Folk Art Festival (TIFAF). Pada pemerintahan Bupati Rita Widyasari, dua kegiatan ini disatukan. Tapi mulai 2019 pesta adat Erau dan Festival Seni Internasional dipisahkan. Erau sepenuhnya akan diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai ing Martadipura dan Tifaf oleh Dinas Pariwisata Kukar.

Erau berasal dari bahasa Kutai, ‘eroh’ yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Erau adalah tradisi ritual dan pesta adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. “Erau” sebagai acara untuk memberikan hiburan kepada masyarakat, Ada sejumlah kegiatan dalam acara ini, misalnya mendirikan tiang ayu, pemberian gelar kehormatan, berseprah, letupan meriam, dan barlimbur. Nah, Erau selalu diselenggarakan bersamaan dengan hari ulang tahun kota Tenggarong. Belimbur, adalah acara puncak dari Erau dengan saling siram-menyiram antarmasyarakat yang hadir.

Erau akan mencapai puncaknya pada hari terakhirnya dengan tradisi Mengulur Naga yang menggairahkan. Mengikuti tradisi ini, sepasang replika naga besar akan diarak di kapal menyusuri sungai. Naga akan dilepaskan di Kutai Lama. Sebuah legenda rakyat mengatakan tempat ini adalah sarang naga. Setelah diluncurkan, orang berkompetisi untuk meraih sisik naga yang diyakini membawa keberuntungan.

Ada pameran seni dan kerajinan tangan, berbagai lomba, lomba perahu naga, lomba perahu ketinting, pertunjukan seni jalanan, dan banyak lagi. Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak 1782.

Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan kembali pada 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs H Achmad Dahlan.

Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782. Walaupun Erau tahun ini tidak lagi bersamaan dengan festival budaya Internasional, akan tetap dimeriahkan oleh kelompok-kelompok kesenian dan lomba olah raga tradisional dari 18 kecamatan di Kutai Kartanegara.

Sementara itu, gelaran Tenggarong Internasional Folk and Art Festival, akan diikuti sedikitnya 7 negara (yang sudah confirmed). Mereka akan tampil dengan kesenian khas daerahnya masing-masing.

Sejumlah negara yang pernah tampil di Tenggarong antara lain Bulgaria, Cina Taipei, India, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Rusia, Thailand, dan India. Sementara itu, kesenian Indonesia yang tampil antara lain tarian dari sub Suku Dayak, yakni Tari Jepen, Tari Dayak Benuaq, Dayak Kenyah (Bangen Tawai), dan Tari Hudoq.

Selama seminggu penuh warga Kutai Kartanegara disuguhi pentas seni tradisional Kalimantan dan kesenian dari daerah lain di Indonesia dan internasional. (Dikominfo/bgs)

Hadirkan 14 Paguyuban, Pekan Budaya Nusantara Perkuat Persatuan Bangsa

KUTIM — Kalimantan Timur menjadi provinsi yang disebut sebagai Indonesia Mini, hal ini dikarenakan berbagai suku dan budaya dapat ditemukan di Bumi Etam. Salah satunya Kabupaten Kutai Timur dengan masyarakatnya yang heterogen, membuat Kabupaten ini memiliki banyak ragam adat istiadat dari berbagai keragaman bangsa Indonesia.

Hari ini didukung dengan adanya kesenian kuda lumping dan reog dengan berbagai variasinya tampil indah dalam Pekan Budaya Nusantara bertempat Folder Sangatta, Kutai Timur, (25/8).

Bupati Kutai Timur Ismunandar menyebutkan bahwa momentum ini sangat positif, sebagai bentuk implementasi nilai Pancasila yaitu Persatuan Indonesia dalam kerangka Bhinekaan Tunggal Ika.

“Kegiatan seperti ini patut didukung dan diapresiasi, sebab menjadi strategi untuk melestarikan budaya warisan leluhur, tentunya saya pun akan selalu memberi ruang bagi budaya lainnya agar terus lestari di kabupaten yang sama kita cintai ini,”jelasnya.

Ismu menambahkan bahwa di HUT Kutim tahun ini, seluruh etnis yang ada di Kutim akan diberikan tempat selama seminggu non stop untuk menggelar atraksi budaya. Sebanyak 4 kecamatan turut ambil bagian dalam kegiatan ini seperti Sangatta Selatan, Sangatta Utara, Bengalon, dan Rantau Pulung. Ada 14 paguyuban yang ikut ambil bagian dalam Pekan Budaya Nusantara terdiri dari Borneo Putro Legowo, Turonggo Waskito Putro, Turonggo Wahyu Budoyo, Turunggo Mudo Among Budoyo, Turonggo Yakso, Turonggo Margo Budoyo, Turonggo Binangun Jati Negara, Turonggo Seto, Turonggo Joyo, Putro Turunggo Mudo, Tirta Kencana, Reog Margo Kencono, Reog Margo Singo Joyo, dan Sanggar Seni IKAWANGI Banyuwangi.

“Disini kita satukan semangat, NKRI harga mati karena Dengan mencintai budaya, berarti kita mencintai kekayaan bangsa,”tukasnya mengakhiri sambutan. (DISKOMINFO/Lely)

Exotic Kaltim Siap Bantu Promosi Wisata Benua Etam

SAMARINDA —- Keindahan 10 Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat lokal maupun masyarakat yang berasal dari daerah lain, tidak terkecuali bagi generasi muda yang kini banyak tergabung dalam komunitas-komunitas dengan tujuan mempromosikan pariwisata daerah.

Exotic Kaltim satu diantara banyaknya komunitas tersebut sudah menjadi pelopor promosi pariwisata Kaltim selama 5 tahun ini. Disampaikan oleh Community Development Exotic Kaltim Pangesti Ratna Damara Maestrosani bahwa 5 tahun menjadi waktu yang tidak singkat untuk memiliki banyak cerita mulai dari seni budaya, alam dan flora fauna, petualangan, aktifitas di air, acara dan festival, kuliner, belanja dan suvenir hingga hiburan yang ada di Bumi Kalimantan Timur.

“Tapi bergerak dari kampung menuju kampung untuk membangun potensi yang ada guna menuju Kalimantan Timur berdaya dari segi pariwisata adalah hal yang paling dinantikan,”jelas Hesti, (9/7).

Dijelaskannya bahwa pemuda adalah promotor penggerak kemajuan bangsa, karena sekecil apapun yang diberikan tentunya akan memberikan dampak yang besar bagi kemajuan pariwisata. Itulah yang dilakukan oleh Exotic Kaltim dengan menggandeng pemuda dan pemudi dalam menemukan berbagai destinasi tersembunyi yang menjadi harta karun Benua Etam.

“Kami hadir dengan persepsi yang sama yaitu ingin mengajak lebih banyak pemuda di Kaltim untuk turut bergerak dan berkontribusi bagi daerah melalui pariwisata dan kebudayaan yang ada,”tukasnya.

Diharapkan melalui banyaknya komunitas yang ada dapat menjadi agen oerubahan untuk generasi muda lebih aktif dan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya dari segi pariwisata yang kini sedang mendapatkan perhatian khusus karena diyakini mampu meningktkan devisa daerah. (DISKOMINFO/Lely)

Potensi Alam Berlimpah, Pengrajin Kaltim Diminta Lakukan Inovasi

Samarinda — Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Pusat Ikhwan Asrin menyebut Kaltim memiliki potensi kerajinan yang besar. Bahkan di buku yang dibuat Dekranas, Kaltim disebut “Mutiara dari Timur” karena memiliki kekayaan sumber alam melimpah. Oleh karena itu, dirinya meminta pengrajin Kaltim terus menggali dan melakukan inovasi kerajinan.

“Sejak awal banyak yang jatuh cinta ke Kaltim karena potensi kerajinan sangat besar. Saya sangat antusias dan mengapresiasi teman-teman yang mempunyai minat mengembangkan motif yang bahan bakunya di Kaltim. Baik itu anyaman, manik-manik, produk-produk kerajinan lain,” terangnya pada acara Sosialisasi Program Dekranas Award di Hotel Midtown, Senin lalu (22/7).

Ikhwan optimis, kerajinan Kaltim bisa dibawa ke Nasional melihat jumlah perajin yang mau belajar dan dukungan bahan bakunya. Hanya saja ada beberapa kelemahan seperti kurang wawasan pengembangan kerajinan yang saat ini dibarengi teknologi. Padahal produk kerajinan yang diimbangi teknologi membuat kesempatan eksplorasi produk lebih besar.

“Kesan saya disini pengrajin kurang membuat desain motif yang dibarengi teknologi. Perajin juga harus melek teknologi, baik teknologi informasi, produk dan desain motif. Menggunakan teknologi tidak akan mengurangi nilai produk, harga makin kompetitif, dan lebih efektif serta efisien. Harus diajari wawasan itu,” jelasnya.

Ikhwan menyerukan agar pengrajin Kaltim lebih inovasi motif menarik, khususnya kalangan milenial. Dirinya juga mencontohkan kerajinan sulam tumpar bisa diekspresikan ke dalam bentuk apapun.

“Silahkan gali motif khas etnik borneo khususnya Kaltim. Contoh sulam tumpar itu langka tapi kalau bisa mendesain saja yang cocok dengan kekinian. Pasti laris. Kita rangsang milenial, buat acara seperti fashion show, kerjasama dengan desainer,” paparnya. (Diskominfo/Cht).

Berita Foto : Sosialisasi Program Dekranasda Kaltim

Sosialisasi Program Dekranas Award yang diadakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kaltim, di Hotel Midtown Samarinda, Senin (22/7). Dihadiri Wakil Sekretaris Jenderal Dekranas Ikhwan Asrin, Ketua Dekranasda Kaltim Norbaiti, Wakil Ketua Dekranasda Kaltim Erni Makmur dan Perwakilan OPD Terkait.

 

Ketua Panitia yang menjabat sebagai Sekretaris Dekranasda Erwinsyah menyampaikan Laporan Kegiatan.

 

Ketua Dekranasda Kaltim Norbaiti saat memberi sambutan sekaligus membuka acara Sosialisasi.

 

Foto bersama seluruh peserta undangan sosialisasi.

 

Ketua Dekranasda Kaltim Norbaiti saat berbincang kepada salah satu desainer Kain Batik tulis Samarinda.

 

Kerajinan khas Kutai Barat yakni Tenun Ulap Doyo. Tenun Ulap Doyo sendiri terkenal sejak Kerajaan Kutai, Ulap doyo merupakan jenis tenun ikat berbahan serat daun doyo (Curliglia latifolia).

 

Kerajinan Batik Tulis berbahan Katun dengan curak Paser, ada juga Batik Baqa Samarinda.

 

Wakil Sekretaris Jenderal saat melihat hasil kerajinan Tas Rajut yang diolah dari Benang rajut dan Tali Kur.

 

Sarung Samarinda atau Tajong Samarinda adalah jenis kain tenunan tradisional. Sarung ini ditenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang disebut Gedokan. Produk yang dihasilkan untuk satu buah sarung memakan waktu 15 hari.

 

Kerajinan Sulam Tumpar khas Kutai Barat ini juga banyak diaplikasikan ke berbagai barang seperti Kalung, Tas, Pakaian, hingga ke hiasan dinding. Motif dari Sulam Tumpar juga beragam motifnya.

Beri Penghargaan, Dekranasda Harap Jadi Motivasi Pelaku Kerajinan

Samarinda — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kaltim memiliki program kerja melakukan pembinaan kepada para pengrajin di Kabupaten/Kota. Karenanya, bekerjasama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Dekranasda Kaltim melaksanakan Sosialisasi Program dan Dekranas Award di Hotel Midtown, Senin (22/7).

Sekretaris Dekranasda Kaltim Erwinsyah mengungkapkan pengurus Dekranasda Kabupaten/Kota diharap terus melakukan pembinaan dan sosialisasi program kerja. Sosialisasi tak hanya menjelaskan kegiatan namun juga membantu memberi motivasi bagi pengrajin lokal.

“Kita harapkan para pengurus yang hadir kegiatan ini bisa melakukan pembinaan. Di Kaltim banyak pengrajin yang memerlukan sentuhan pembinaan, baik produksi maupun pemasaran,” ungkapnya.

Dikatakan Erwin, intinya memberi dukungan dan motivasi pengrajin melalui Dekranasda Kabupaten/Kota agar terus meningkatkan kualitas kerajinan daerah.

“Pengrajin harus paham proses terwujudnya hasil kerajinan. Serta, mendapatkan pemahaman kerajinan itu tak hanya batik. Bisa juga membuat produk kerajinan dari berbagai pilihan bahan baik itu logam, tanah, dan lainnya. Kepada pengrajin bisa memberi motivasi bahwa ada nilai yang bisa didapatkan dari bantuan lain yang bisa dikembangkan,” terangnya.

Erwin menambahkan Dekranasda juga memberi penghargaan melalui Dekranas Award. Ini merupakan pemberian penghargaan Dekranas Pusat kepada pelaku kerajinan dan pembina yang memenuhi kriteria sesuai usulan Dekranas Daerah.

“Kita harapkan dengan penghargaan ini, meningkatkan motivasi kerajinan yang dilakukan seperti inovasi dan kreativitas. Dengan begitu, diharapkan ada sumbangsih kepada daerah dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” imbuhnya. (Diskominfo/Cht)

Promosi Wisata, Kota Bontang Gandeng Generasi Millenial

Bontang – Sektor pariwisata terus menjadi perhatian semua daerah di Kaltim. Hal ini didukung meningkatnya pendapatan daerah karena pengelolaan wisata. Kota Bontang pun berbenah khususnya dalam mengelola sektor pariwisata. Berbagai promosi terus dilakukan, terlebih upaya Pemerintah menggandeng generasi millenial untuk memanfaatkan teknologi digital.

Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kota Bontang Ramli menyampaikan ada kegiatan Tourism Ambassador East Kalimantan Camp (TAEKC) 4.0 di Kaltim. Kegiatan yang pertama dilakukan itu sehubungan HUT Kota Taman ke-20 pada bulan Oktober mendatang,

“Banyak kegiatan dalam TAEKC 4.0, seperti Seminar dan Workshop kepariwisataan, Tourism Tour, Industrial Visit, Courtesy Call Government, Pekan Wisata dan Budaya, Outbond, dan NgeVlog bareng,” jelas Ramli, Sabtu (20/7).

Ditambahkan, kegiatan ini akan dilaksanakan selama empat hari, mengundang dua pasang duta wisata se-Kabupaten/Kota Kalimantan Timur. Even tahunan ini dapat memanfaatkan generasi muda yang merupakan generasi millenial di masing-masing daerah. (Diskominfo/Lely)