Anti Hoax

“Menkominfo Harapkan Generasi Muda, Pelopor Perangi Hoax”

Jakarta – Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak generasi muda untuk memerangi hoaks. Hal itu ia sampaikan sebagai harapan kepada pemuda Indonesia agar tetap menjadi pelopor di era digital ini.

“Sejak dulu generasi muda selalu menjadi pelopor atas semangat dan ikatan kebangsaan kita. Kiranya juga tetap demikian di era digital ini, karena pemuda adalah garda terdepan kita dalam memerangi hoax yang memecah-belah bangsa,” katanya ketika menjadi pembicara Talkshow MilenialFest di Djakarta Theater, Jakarta, Minggu (28/10).

Menteri Rudiantara menilai generasi muda sebagai kelompok yang tidak menyukai hoax. “Kelompok yang disebut generasi milenial itu dianggap cukup cerdas dalam memilah mana berita yang benar dan salah,” ujarnya.

Menurutnya, generasi yang telah memiliki usia yang matang dinilai mudah terpapar dan menyerap isu hoax. “Ada report dari mana gitu, yang (menyebut) milenial itu nggak suka hoax, jadi yang suka hoax itu justru yang rada-rada toku (tua) lah,” jelas Rudiantara.

Di momentum peringatan Sumpah Pemuda tahun ini, Menteri Kominfo mengajak pemuda untuk menjadi inspirasi bagi generasi tua agar lebih cermat dalam menerima informasi yang beredar di dunia digital.

“Menurut saya yang muda-muda milenial itu tidak suka hoax. Bagaimana caranya (agar) mendorong yang toku-toku ini agar tidak bermain hoax,” ungkapnya,

Millennials Festival 2018 digelar untuk menginspirasi generasi milenial agar dapat berkontribusi atas pembangunan di Indonesia. Sejumlah pakar dan pelaku langsung pembangunan ikut menjadi pengisi acara itu.

Menteri Rudiantara berbicara dalam panel bersama Patrick Walujo (Northstar) dan Teddy Oetomo (Bukalapak). Dengan tema Kebangsaan Digital, Menteri Kominfo mendorong generasi milenial untuk mencari solusi atas problem-problem di Indonesia.

“Supaya startup baru bisa inovatif dan berdaya guna untuk bangsa sendiri,” tambah Rudiantara.

 

 

 

Sumber : https://kominfo.go.id

Foto : google

Literasi Media Menjadi Nutrisi dan Vitamin Untuk Penyiaran Sehat, Bermanfaat dan Berdaulat

Samarinda – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) menyelenggarakan kegiatan Literasi Media dengan tema “Kritis Bermedia Wujudkan Pemilu Damai & Beretika Tanpa Hoax” di Ruang Rapat Ruhui Rahayu, rabu (31/10) dengan para narasumber Diddy Rusdiansyah (Kepala Dinas Kominfo Prov. Kaltim) Okky Irmanita (Jurnalis Kompas TV), dan  Rina Juwita (Dosen Ilmu Komunikasi Unmul Samarinda). Program Literasi adalah suatu bentuk pertanggung jawaban Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Prov. Kaltim atas amanah UU UU 32 tahun 2002, tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS).

Kegiatan ini bertujuan agar masyarakat lebih berdaya dan kritis terhadap muatan isi siaran. Dan bukan menjadi objek yang pasif apalagi apatis dalam mengkonsumsi berita yang disajikan media.

Menurut ketua Panitia Andi Muhammad Abdi, media massa dan sosial media akan menjadi medan pertarungan dalam memproduksi berita hoax, ujaran kebencian, provokasi, black campaign dan bermuatan SARA.

“Hal ini akan menjadi ancaman nyata yang harus kita lawan dengan penuh kesadaran, kepedulian dan aksi nyata” ujarnya saat melaporkan alur kegiatan Literasi Media ini.

Dikatakannya, kegiatan Literasi Media menjadi penting sebagai edukasi terhadap publik. Literasi media menjadi nutrisi dan vitamin yang baik untuk melahirkan penyiaran yang sehat, bermanfaat dan berdaulat untuk kepentingan dan kenyamanan publik. (Diskominfo/dir)

Pentingnya Kesadaran Kritis Bagi Khalayak Ketika Berhadapan Dengan Media

Samarinda – Literasi Media yang diadakan oleh KPID Prov. Kaltim kali ini mengangkat tema “Kritis Bermedia, Wujudkan Pemilu Damai & Beretika Tanpa Hoax” menyadarkan kita sebagai masyarakat bahwa kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan mengkomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media. Literasi media merupakan seperangkat perspektif yang digunakan secara aktif saat mengakses media masa untuk menginterpretasikan pesan yang di hadapi.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) baik di tingkat Pusat maupun Daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsinya berpedoman pada UU 32 tahun 2002, tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) serta Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, KPI dan KPID dalam melaksanakan program kerja berorientasi pada perlindungan publik, terutama perlindungan terhadap anak dan remaja, memberdayakan peran serta masyarakat pada umum maupun masyarakat penyiaran pada khususnya.

Namun dalam pelaksanaan program kerja, masih ada beberapa pekerjaan rumah yang memerlukan pengawalan dan penguatan baik oleh KPI pusat maupun KPI Daerah, antara lain mengawal demokrasi di udara di tahun politik, Pileg dan Pilpres tahun 2019, Literasi Media, Peningkatan SDM Penyiaran agar program yang dibuat dan disiarkan lembaga penyiaran dapat memberikan muatan positif dan mendidik.

Wakil Gubernur Hadi Mulyadi yang dalam hal ini memberi sambutan serta membuka acara Literasi Media yang berlangsung di ruang Rapat Ruhui Rahayu Kantor Gubernur Kaltim, rabu (31/10) menghimbau kepada seluruh masyarakat luas tidak terkecuali agar lebih kritis dan semakin tahu informasi layak diterima dan disebarkan kepada sekitar.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kominfo Prov. Kaltim Diddy Rusdiansyah, seluruh Anggota KPID Prov. Kaltim, Ormas, Organisasi Mahasiswa, Mahasiswa, Pelajar.

“kita bermedia pertama untuk menambah ilmu pengetahuan, yang kedua untuk menyambung silahturahmi, dan yang ketiga menambah dan menyebarluaskan informasi positif. Karena Media Massa luar biasa tumbuh kembangnya” ujarnya. (Diskominfo/dir)

Ucapkan Belasungkawa, Mahyudin Harap Masyarakat Tak Sebar Kabar Hoax Lion Air

SAMARINDA—Wakil Ketua MPR RI Mahyudin turut berbela sungkawa atas musibah yang menimpa pesawat Lion Air JT610 dengan rute penerbangan Jakarta – Pangkal Pinang 29 Oktober lalu hilang kontak dan jatuh di wilayah Tanjung Karawang Jawa Barat. Menurutnya musibah tersebut sangat memukul industri  penerbangan di Indonesia.

“Saya turut sangat berduka atas korban meninggal dari musibah tersebut, semoga amal ibadah mereka diterima Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga diberikan kesabaran serta ketabahan,” kata Mahyudin di Samarinda, Selasa (30/10).

Selain itu, Mahyudin juga menghimbau kepada masyarakat untuk menahan diri, tidak berkomentar dan menyebarkan foto-foto yang bisa melukai perasaan keluarga korban. Terhadap para korban yang hingga kini masih banyak belum ditemukan, Mahyudin berharap agar semua Instansi terkait bisa segera melakukan pencarian serta dapat memberikan penjelasan agar mereka mengetahui secara pasti kondisi yang sebenarnya terjadi dan tidak mempercayai postingan yang ada di media sosial.

“Saya kira semua pihak harus menahan diri jangan terlalu banyak komen dan memposting foto-foto yang tidak perlu. Kasihan keluarga korban sekarang yang kena musibah. Kita yang tidak paham atau awam jangan lantas berspekulasi macam-macam, komen macam-macam, jangan posting gambar dan kabar-kabar hoax. Biarlah tim SAR yang bekerja untuk identifikasi,” tegasnya. (Diskominfo Kaltim / Cht)

Masyarakat di Minta Stop Sebarkan Berita Hoax Lion Air

Samarinda – Indonesia kembali berduka, Pesawat Lion Air rute Jakarta-Pangkal Pinang dengan penerbangan JT 610 hilang kontak pada Senin pagi 29 Oktober 2018. Diduga pesawat yang membawa ratusan penumpang tersebut jatuh di sekitar perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat.

Polisi meminta masyarakat untuk tak menyebarkan informasi bohong atau hoax terkait insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat. Polisi mengingatkan penyebar hoax musibah tersebut bisa dijerat pidana.

Sejak senin (29/10) kemarin, video dan foto hoax mengenai insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 beredar di media sosial, salah satunya video viral memperlihatkan detik-detik turbolensi di dalam pesawat dan disebut kondisi sebelum Lion Air JT 610 jatuh.

Ada ancaman pidana bagi masyarakat yang dengan sengaja menyebarkan informasi palsu atau hoax, yang berpotensi menimbulkan gejolak di masyarakat. Video itu juga memperlihatkan suasana di dalam pesawat gelap, ada juga teriakan takbir dalam rekaman video. Video tersebut sudah dipastikan hoax.

Dan ada foto yang beredar dan memperlihatkan seseorang perempuan dan laki-laki duduk di pesawat kursi pesawat, keduanya memakai masker oksigen. Foto-foto tersebut dikaitkan dengan tragedy jatuhnya pesawat Lion Air JT 610, dan foto tersebut juga dipastikan tidak benar.

Diharapkan kepada masyarakat agar tidak mendramatisir berkaitan dengan kejadian ini, tapi kita sebagai sesama agar ikut berduka cita dan belasungkawa semoga tim Basarnas ( Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan ) cepat mengevakuasi korban. (Diskominfo/dir)

 

sumber foto : google

Tidak Sebar Hoaks berkaitan dengan Kecelakaan Pesawat

Samarinda–Sehubungan dengan beredarnya sejumlah informasi hoaks terkait peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

 

  1. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI menyampaikan turut berbelasungkawa atas musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang pada Senin (29/10).

 

  1. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI mengimbau warga net Indonesia untuk TIDAK menyebarkan informasi HOAKS ataupun informasi yang bukan berasal dari sumber berwenang terkait dengan musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang.

 

  1. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI juga mengimbau warga net untuk tidak menyebarkan foto-foto korban dari musibah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 melalui media apapun termasuk media sosial.

 

  1. Kami ingatkan kembali bahwa setiap aktivitas kita di ruang siber (cyber space), termasuk aktivitas mendistribusikan, mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi hoaks diatur dengan UU RI No 19 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

 

Sumber : https://www.kominfo.go.id

Begini Penjelasan Terkait Bendera HTI di Kantor Gubernur Kaltim

SAMARINDA—Viralnya pemberitaan di media terkait pengibaran bendera ormas HTI di halaman kantor Gubernur Kaltim membuat Gubernur Kaltim Isran Noor angkat suara untuk mengklarifikasi berita tersebut. Peristiwa pengibaran bendera yang disebut bendera HTI itu terjadi pada Jumat 26 Oktober 2018.

Sebelumnya beredar copy surat undangan terkait rapat koordinasi untuk mengantisipasi dampak peristiwa pembakaran bendera yang bertuliskan Kalimat Tauhid. Gubernur Isran menegaskan surat bernomor 427/5063/B.Kesra/2018 itu memang surat resmi yang dia tanda tangani pada 24 Oktober 2018 yang berisi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi terkait insiden pembakaran bendera Tauhid tersebut.

Namun dalam daftar undangan, Isran menyebut ada kekeliruan yang tidak dirinya sengaja yakni mengundang Pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang jelas-jelas merupakan ormas yang sudah resmi dibubarkan oleh Negara.

“Saya melakukan kekeliruan yang tidak disengaja. Ternyata ada Pimpinan HTI yang terdaftar diundangan. Ini murni ketidaksengajaan dan kesalahan saya,” jelas Isran, Senin (29/10).

Selain itu, Plt. Sekprov Kaltim, Meiliana, juga mengklarifikasi beredarnya sejumlah foto pengibaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di lingkungan Kantor Gubernur Kaltim. Menurutnya informasi pengibaran bendera HTI di Kantor Gubernur Kaltim adalah hoax.Dirinya menyebutkan tidak adanya penurunan bendera merah-putih dan berganti dengan dikibarkannya bendera berlafal tauhid di tiang bendera milik Pemprov Kaltim tersebut.

“Jadi, yang ada di foto yang beredar itu hoax. Kan mudah sekarang ini beredar. Pengibaran bendera yang ada di Kantor Gubernur sudah diingatkan oleh Kepala Satpol PP untuk menurunkan bendera bertuliskan tauhid yang ada di pagar, bukan di tiang bendera,” tuturnya.

Kendati demikian, Asisten 3, Bere Ali membenarkan adanya beberapa bendera tauhid yang dikibarkan di tiang bendera Pemprov Kaltim. Ia mengatakan, memang benar ada beberapa bendera tauhid yang dikibarkan, namun bukan seperti pada foto yang beredar.

“Saya ada di tempat saat adanya aksi. Ada beberapa yang dikibarkan, tapi bukan seperti yang ada di foto yang beredar itu. Di foto itu kan berjejer banyak, itu tidak ada. Itu hoax, bisa dilihat dengan jelas,” terangnya.

Lebih lanjut, pihak Pemprov Kaltim tentang adanya beberapa informasi yang beredar untuk tidak terus disebarluaskan agar tidak menjadi kegelisahan di masyarakat.

ref: kliksamarinda, tribun, prokal, kricom

 

Kominfo Bentuk Kekuatan Generasi Muda yang Siap Perangi Serangan Siber

Samarinda–Sebanyak 10 juta serangan yang mengakibatkan kerugian untuk perkembangan teknologi digital atau cyber attack diperkirakan terjadi setiap harinya di seluruh negara-negara internasional. Indonesia masuk sebagai top country cyber attack.

Khusus untuk Indonesia, tercatat menjadi negara peringkat ketiga yang masuk dalam radar sasaran cyber attack. Hal itu diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam acara Digicamp Born to Protect yang diselenggarakan Xynexis bersama Kemenkominfo. “Inilah yang terjadi dan permasalahannya Indonesia itu selalu masuk negara besar target country. Serangannya bisa berbentuk hack, bisa DDOS dan lain sebagainya,” ujar Rudiantara.

Kendati Indonesia masuk dalam sasaran utama cyber attack, Rudiantara mengatakan telah siap melawan dan mengantisipasinya sebab memiliki kekuatan lembaga siber yang telah dibentuk serta sumber daya manusia di kelompok generasi muda. Negara Indonesia, ucap Menteri Rudiantara, amat merasa bangga memiliki Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang secara regulasi memiliki kewenangan menangkal cyber threat.  Kemudian sejak tahun 2017, Kemenkominfo juga terus mengajak dan mencoba mengoptimalkan potensi generasi muda Indonesia yang mempunyai kapasitas di teknologi digital untuk bersama-sama memerangi cyber attack. “Kita cari dan biayai. Nanti teman-teman yang sudah tersertifikasi dan 100 orang terpilih diharapkan menjadi cikal bakal sumber daya manusia yang akan berkembang untuk memproteksi negara kita melalui jaringan cyber,” ujar Rudiantara.

Rudiantara menjelaskan, seluruh sumber daya generasi muda Indonesia yang telah terpilih memiliki peran dan tanggung jawab memproteksi negara dari serangan siber yang dapat menyasar pemerintahan, korporasi swasta, perguruan tinggi, LSM, CSO dan berbagai organisasi resmi lainnya. Digicamp Born to Protect merupakan agenda program nasional untuk mencari bakat, membimbing, mendidik dan membina anak muda sehingga bisa ditempatkan ke industri yang membutuhkan cybersecurity talent. (diskominfo/tp)

Referensi :

https://kominfo.go.id/

 

 

Masyarakat Diharap Mampu Identifikasi Berita Hoax

SAMARINDA — Hoax menjadi perbincangan hangat di media massa maupun media sosial belakangan ini karena dianggap meresahkan publik dengan informasi yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.

Istilah hoax, kabar bohong, menurut Lynda Walsh dalam buku “Sins Against Science”, merupakan istilah dalam bahasa Inggris yang masuk sejak era industri, diperkirakan pertama kali muncul pada 1808.

Sehingga sudah dipastikan hoax atau kabar bohong sudah ada sejak jauh sebelum berita ini muncul dibeberapa tahun belakangan ini.

Hal itu sehubungan dengan frekuensi informasi dan berita palsu atau lebih dikenal dengan istilah “hoax” oleh sejumlah oknum yang tidak bertanggungjawab kian hati kian meningkat terlebuh dengan didukungan kecanggihan media sosial yang kini dapat diakses oleh siapapun,dimanapun dan kapanpun.

 

Jika tidak ada kehati-hatian, netizen atu warga internet pun dengan mudah termakan tipuan hoax tersebut bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban fitnah. Lalu bagaimana caranya agar tak terhasut?

Disampikan oleh Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho menguraikan lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli. Berikut penjelasannya:

 

1. Hati-hati dengan judul provokatif

 

Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menudingkan jari ke pihak tertentu. Isinya pun bisa diambil dari berita media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax.

 

Oleh karenanya, apabila menjumpai berita denga judul provokatif, sebaiknya Anda mencari referensi berupa berita serupa dari situs online resmi, kemudian bandingkan isinya, apakah sama atau berbeda. Dengan demikian, setidaknya Anda sebabagi pembaca bisa memperoleh kesimpulan yang lebih berimbang.

 

2. Cermati alamat situs

 

Untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link, cermatilah alamat URL situs dimaksud. Apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa dibilang meragukan.

 

Menurut catatan Dewan Pers, di Indonesia terdapat sekitar 43.000 situs di Indonesia yang mengklaim sebagai portal berita.

 

Dari jumlah tersebut, yang sudah terverifikasi sebagai situs berita resmi tak sampai 300. Artinya terdapat setidaknya puluhan ribu situs yang berpotensi menyebarkan berita palsu di internet yang mesti diwaspadai.

 

3. Periksa fakta

 

Perhatikan dari mana berita berasal dan siapa sumbernya? Apakah dari institusi resmi seperti KPK atau Polri? Sebaiknya jangan cepat percaya apabila informasi berasal dari pegiat ormas, tokoh politik, atau pengamat.

Perhatikan keberimbangan sumber berita. Jika hanya ada satu sumber, pembaca tidak bisa mendapatkan gambaran yang utuh.

 

Hal lain yang perlu diamati adalah perbedaan antara berita yang dibuat berdasarkan fakta dan opini. Fakta adalah peristiwa yang terjadi dengan kesaksian dan bukti, sementara opini adalah pendapat dan kesan dari penulis berita sehingga memiliki kecenderungan untuk bersifat subyektif.

 

4. Cek keaslian foto

 

Di era teknologi digital saat ini , bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca.

 

Cara untuk mengecek keaslian foto bisa dengan memanfaatkan mesin pencari Google, yakni dengan melakukan drag-and-drop ke kolom pencarian Google Images. Hasil pencarian akan menyajikan gambar-gambar serupa yang terdapat di internet sehingga bisa dibandingkan.

 

5. Ikut serta grup diskusi anti-hoax

 

Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

 

Di grup-grup diskusi ini, netizen bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoax atau bukan, sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Semua anggota bisa ikut berkontribusi sehingga grup berfungsi layaknya crowdsourcing yang memanfaatkan tenaga banyak orang.

Sehingga diharapkan kedepan masyarakat dapat lebih pintar dan bijak dalam memilah informasi yang akan dibagikan agar tidak adanya pro dan kontra akan suatu informasi. (DISKOMINFO/Lely)

Kominfo Bentuk Kekuatan Generasi Muda yang Siap Perangi Serangan Siber

Samarinda–Sebanyak 10 juta serangan yang mengakibatkan kerugian untuk perkembangan teknologi digital atau cyber attack diperkirakan terjadi setiap harinya di seluruh negara-negara internasional. Indonesia masuk sebagai top country cyber attack.

Khusus untuk Indonesia, tercatat menjadi negara peringkat ketiga yang masuk dalam radar sasaran cyber attack. Hal itu diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara dalam acara Digicamp Born to Protect yang diselenggarakan Xynexis bersama Kemenkominfo. “Inilah yang terjadi dan permasalahannya Indonesia itu selalu masuk negara besar target country. Serangannya bisa berbentuk hack, bisa DDOS dan lain sebagainya,” ujar Rudiantara.

Kendati Indonesia masuk dalam sasaran utama cyber attack, Rudiantara mengatakan telah siap melawan dan mengantisipasinya sebab memiliki kekuatan lembaga siber yang telah dibentuk serta sumber daya manusia di kelompok generasi muda. Negara Indonesia, ucap Menteri Rudiantara, amat merasa bangga memiliki Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang secara regulasi memiliki kewenangan menangkal cyber threat.  Kemudian sejak tahun 2017, Kemenkominfo juga terus mengajak dan mencoba mengoptimalkan potensi generasi muda Indonesia yang mempunyai kapasitas di teknologi digital untuk bersama-sama memerangi cyber attack. “Kita cari dan biayai. Nanti teman-teman yang sudah tersertifikasi dan 100 orang terpilih diharapkan menjadi cikal bakal sumber daya manusia yang akan berkembang untuk memproteksi negara kita melalui jaringan cyber,” ujar Rudiantara.

Rudiantara menjelaskan, seluruh sumber daya generasi muda Indonesia yang telah terpilih memiliki peran dan tanggung jawab memproteksi negara dari serangan siber yang dapat menyasar pemerintahan, korporasi swasta, perguruan tinggi, LSM, CSO dan berbagai organisasi resmi lainnya. Digicamp Born to Protect merupakan agenda program nasional untuk mencari bakat, membimbing, mendidik dan membina anak muda sehingga bisa ditempatkan ke industri yang membutuhkan cybersecurity talent. (diskominfo/tp)

Referensi :

https://kominfo.go.id