2 Acara Besar Di Kutai Kartanegara

Samarinda-Erau Adat Kutai & 7th International Folk Art Festival yang di adakan di kab. Kutai Kartanegara berlangsung pada tanggal 3 sampai 16 september 2019. (4/9)

Menjaga Kekhidmatan, Pesta Adat Erau dan TIFAF Digelar Terpisah, Pesta tradisional kesultanan Kutai ing Martadipura “Erau” dan Tenggarong Internasional Folk Art Festival digelar terpisah di bulan September. Keduanya dipisah untuk menjaga kekhidmatan tradisi keraton.

Pada September 2019 bakal ada dua gelaran budaya yang sangat menarik untuk ditonton. di Kalimantan Timur, tepatnya Tenggarong, Ibu kota Kabupaten Kutai Kartanegara, juga ada pesta adat Erau dan Tenggarong Internasional Folk and Art Festifal (TIFAF), yang tak kalah serunya.

Beberapa waktu lalu Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara sudah menetapkan 3-16 September untuk menggelar pesta adat Erau dan pada 21 hingga 29 September dijadwalkan gelaran International Folk Art Festival (TIFAF). Pada pemerintahan Bupati Rita Widyasari, dua kegiatan ini disatukan. Tapi mulai 2019 pesta adat Erau dan Festival Seni Internasional dipisahkan. Erau sepenuhnya akan diselenggarakan oleh Kesultanan Kutai ing Martadipura dan Tifaf oleh Dinas Pariwisata Kukar.

Erau berasal dari bahasa Kutai, ‘eroh’ yang artinya ramai, riuh, ribut, suasana yang penuh sukacita. Suasana yang ramai, riuh rendah suara tersebut dalam arti banyaknya kegiatan sekelompok orang yang mempunyai hajat dan mengandung makna baik bersifat sakral, ritual, maupun hiburan.

Erau adalah tradisi ritual dan pesta adat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. “Erau” sebagai acara untuk memberikan hiburan kepada masyarakat, Ada sejumlah kegiatan dalam acara ini, misalnya mendirikan tiang ayu, pemberian gelar kehormatan, berseprah, letupan meriam, dan barlimbur. Nah, Erau selalu diselenggarakan bersamaan dengan hari ulang tahun kota Tenggarong. Belimbur, adalah acara puncak dari Erau dengan saling siram-menyiram antarmasyarakat yang hadir.

Erau akan mencapai puncaknya pada hari terakhirnya dengan tradisi Mengulur Naga yang menggairahkan. Mengikuti tradisi ini, sepasang replika naga besar akan diarak di kapal menyusuri sungai. Naga akan dilepaskan di Kutai Lama. Sebuah legenda rakyat mengatakan tempat ini adalah sarang naga. Setelah diluncurkan, orang berkompetisi untuk meraih sisik naga yang diyakini membawa keberuntungan.

Ada pameran seni dan kerajinan tangan, berbagai lomba, lomba perahu naga, lomba perahu ketinting, pertunjukan seni jalanan, dan banyak lagi. Erau pertama kali dilaksanakan pada upacara tijak tanah dan mandi ke tepian ketika Aji Batara Agung Dewa Sakti berusia 5 tahun. Setelah dewasa dan diangkat menjadi Raja Kutai Kartanegara yang pertama (1300-1325), juga diadakan upacara Erau. Sejak itulah Erau selalu diadakan setiap terjadi penggantian atau penobatan Raja-Raja Kutai Kartanegara.

Dalam perkembangannya, upacara Erau selain sebagai upacara penobatan Raja, juga untuk pemberian gelar dari raja kepada tokoh atau pemuka masyarakat yang dianggap berjasa terhadap Kerajaan.

Pelaksanaan upacara Erau dilakukan oleh kerabat keraton/Istana dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Mereka datang dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bekal bahan makanan, ternak, buah-buahan, dan juga para seniman. Dalam upacara Erau ini, Sultan serta kerabat Keraton lainnya memberikan jamuan makan kepada rakyat dengan memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya sebagai tanda terima kasih Sultan atas pengabdian rakyatnya.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara pada 1960, wilayahnya menjadi daerah otonomi yakni Kabupaten Kutai. Tradisi Erau tetap dipelihara dan dilestarikan sebagai pesta rakyat dan festival budaya yang menjadi agenda rutin pemerintah Kabupaten Kutai dalam rangka memperingati hari jadi Kota Tenggarong, pusat pemerintahan Kesultanan Kutai Kartanegara sejak 1782.

Pelaksanaan Erau yang terakhir menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan pada 1965, ketika diadakan upacara pengangkatan Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat. Sedangkan Erau sebagai upacara adat Kutai dalam usaha pelestarian budaya dari Pemda Kabupaten Kutai baru diadakan kembali pada 1971 atas prakarsa Bupati Kutai saat itu, Drs H Achmad Dahlan.

Upacara Erau dilaksanakan 2 tahun sekali dalam rangka peringatan ulang tahun kota Tenggarong yang berdiri sejak 29 September 1782. Walaupun Erau tahun ini tidak lagi bersamaan dengan festival budaya Internasional, akan tetap dimeriahkan oleh kelompok-kelompok kesenian dan lomba olah raga tradisional dari 18 kecamatan di Kutai Kartanegara.

Sementara itu, gelaran Tenggarong Internasional Folk and Art Festival, akan diikuti sedikitnya 7 negara (yang sudah confirmed). Mereka akan tampil dengan kesenian khas daerahnya masing-masing.

Sejumlah negara yang pernah tampil di Tenggarong antara lain Bulgaria, Cina Taipei, India, Jepang, Korea Selatan, Polandia, Rusia, Thailand, dan India. Sementara itu, kesenian Indonesia yang tampil antara lain tarian dari sub Suku Dayak, yakni Tari Jepen, Tari Dayak Benuaq, Dayak Kenyah (Bangen Tawai), dan Tari Hudoq.

Selama seminggu penuh warga Kutai Kartanegara disuguhi pentas seni tradisional Kalimantan dan kesenian dari daerah lain di Indonesia dan internasional. (Dikominfo/bgs)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

two × 2 =